Oleh: Mas Wid
Di sela-sela kesibukan mengurus usaha, kali ini saya menyempatkan
diri mengikuti kegiatan yang tidak biasa. Cimahi Dalam Bingkai 3.
Pesertanya adalah sekelompok warga yang peduli dengan sejarah Kota
Cimahi. Saya dan teman-teman sepakat untuk sejenak mengunjungi
masa lalu. Voyage dari makam ke makam, dari kuburan ke kuburan, berusaha
menggali kenangan dan menyusun puzzle satu demi satu dari cerita dan
fakta yang terserak dimana- mana.
Susunan mozaik sejarah yang kami temukan sudah tentu masih jauh dari
sempurna, tapi setidaknya satu langkah kecil sudah dimulai untuk lebih
memahami masa lalu kita.
Yang pertama kami kunjungi adalah Kabuyutan
Cipageran, sebuah kompleks seluas 4 hektar, yang terdiri dari pesawahan
dan rimbunnya pohon-pohon yang masih kental menggambarkan suasana
pedesaan. Tempat ini direncanakan sebagai miniature dari budaya
asli kasundaan yang dulu pernah eksis di Cimahi. Yang sudah terealisasi
adalah “batu satangtung” berupa replica dari Lingga dan Yoni lambang
keserasian antara pria dan wanita, antara langit dan bumi, antara yang
di atas dan yang di bawah antara yang nampak dan tidak Nampak, antara
Yin dan Yang. Selanjutnya disini akan dibangun pula miniature suasana
pedesaan Sunda beserta segala aksesorisnya seperti leuit, padaringan,
halu, jubleg, hawu, pawon dll.
Menurut Aa Fajar sebagai salah
satu pengelola Kabuyutan, disini juga akan dibangun beberapa contoh
arsitektur bangunan Sunda asli sehingga generasi muda jaman sekarang
bisa mengetahui apa yang dimaksud dengan jogog anjing, julang ngapak,
limasan, bale nyungcung dan lain-lain. Semoga upaya ini bukan
semata-mata untuk memelihara romantisme masa lalu, melainkan menjadi
ajang belajar bagi kita semua, karena hanya dengan memahami masa lalu
maka kita akan lebih bijak dalam memandang masa depan. Secara rutin
pengelola Kabuyutan mengadakan diskusi untuk menggali dan memahami
sejarah Kasundaan yang hingga kini belum terungkap seluruhnya. Tujuan selanjutnya adalah makam Cipageran yang terletak persis
berseberangan dengan kuburan Cina Santiong. Disini kami tertegun,
suasana mistis langsung terasa, terpesona dengan hawa yang sejuk dan
keanggunan pohon-pohon beringin tua, hijau menghampar berikut akar-akar
gantungnya yang menjuntai.
Di makam Cipageran ini ada makam Eyang
Wira Sutawijaya dan istrinya Eyang Fatimah Sariwangi, konon mereka
berdua adalah cikal bakal atau generasi pertama yang melakukan babad
alas untuk membangun sebuah desa yang kelak berkembang menjadi kota
Cimahi. Ada yang mengatakan bahwa Eyang Wira Sutawijaya sekalipun
wujudnya hanya satu orang tapi kuburannya ada dua. Memang cerita, fakta
dan legenda saling membelit, bercampur baur jadi satu. Sayang sekali
tidak ada literature yang membahas kedua tokoh ini secara mendalam,
bahkan Mak Ikah, kuncen kuburan, juga tidak tahu banyak. Saya
juga mendengar bahwa pemakaman ini sering dijadikan tempat untuk
tirakat, berpuasa dan tidur dibangunan kuburan selama tiga atau tujuh
hari. Salah satu sahabat saya pernah menjalani laku disini, pada malam
ketujuh dia mimpi melihat cahaya gemerlapan aneka warna, tak lama
kemudian begitu terbangun di tangannya ada sebuah karembong (selendang)
yang disulam dengan sangat indahnya, entah datang dari mana.
Disamping itu ada tokoh-tokoh lain dari masa lalu yang juga dimakamkan
disini. Ada mBah Sayid, mBah Geleng, Patih Sumedang, Keluarga besar
penyanyi Bimbo dan lain-lain. Yang unik adalah makam mBah Geleng, hanya
terdiri tumpukan batu-batu tetapi dikelilingi oleh akar menjuntai dari
pohon beringin disebelahnya, seolah-olah akar pohon itu sengaja
merangkul, membentengi dan melindungi makam tersebut. Misteri alam yang
belum terpecahkan. Tujuan kami selanjutnya adalah kompleks makam
mBah Nurkarim di Kel, Cigugur. Beruntung kami bertemu dengan Kang Dadang
Ramdhan, salah satu keturunan mBah Nurkarim , beliau bercerita banyak
dan sangat membantu memahami sosok mBah Nurkarim dengan lebih baik.
Ratusan tahun yang lalu terjadi eksodus priyayi dari kerajaan Mataram ,
salah satunya adalah mBah Nurkarim. Tidak begitu jelas alasannya kenapa
beliau memutuskan tinggal di kawasan Cigugur Cimahi, tetapi selanjutnya
mBah Nurkarim dikenal sebagai salah satu tokoh dakwah terkemuka yang
menyebarkan ajaran Islam di Cimahi. Ada yang menduga bahwa mBah Nurkarim
adalah bagian dari prajurit Sultan Agung yang ikut serta dalam
penyerbuan ke Batavia di abad ke 17, ada juga yang menduga bahwa mBah
Nurkarim adalah utusan resmi Kerajaan Mataram di tanah Priangan
mengingat bahwa pada saat itu tanah Priangan adalah daerah jajahan
Mataram.
Salah satu keturunan dari mBah Nurkarim yang juga
menjadi tokoh lokal yang disegani adalah Bapak Haji Abdul Halim yang
menjadi tuan tanah di daerah Cigugur, Cibabat. Nama beliau diabadikan
menjadi nama jalan di sebelah Kantor Dinas Sosial Prov. Jawa Barat.
Sahabat kita Dadang Ramdhan adalah keturunan kelima dari Bapak Abdul
Halim. Yang belum tergali adalah apa sesungguhnya peran sejarah dari
tokoh-tokoh tersebut sehingga namanya terukir indah dalam kenangan
masyarakat disitu. Tujuan kami selanjutnya adalah Kampung
Cireundeu di Cimahi Selatan. Ciri khas dari peri kehidupan masyarakat
Cireundeu adalah secara turun temurun menjadikan singkong sebagai bahan
makanan pokok. Masyarakat disini tidak makan nasi beras, melainkan nasi
singkong yang diolah sedemikian rupa sehingga rasanya tidak jauh berbeda
dengan nasi beras.
Kami diterima dengan keramahan khas
masyarakat Sunda pedesaan oleh tokoh-tokoh masyarakat Cireundeu, Abah
Widi, Abah Opa dan Kang Yana. Abah Widi menguraikan panjang lebar
mengenai sejarah terbentuknya komunitas masyarakat Cireundeu dan
filosofi yang mendasari sikap masyarakat yang memilih untuk makan
singkong seumur hidup mereka dan tidak makan nasi beras yang terangkum
dalam kalimat berikut :
Teu Nyawah Asal Boga Pare,
Teu Boga Pare Asal Boga Beas,
Teu Boga Beas Asal Bisa Nyangu,
Teu Nyangu Asal Dahar,
Teu Dahar Asal Kuat
Apa yang dilakukan oleh masyarakat Cireundeu adalah bentuk kearifan
local dalam hal keanekaragaman bahan pangan. Saya bermimpi bahwa
santapan nasi singkong ini akan bisa lebih memasyarakat hingga ketahanan
pangan menjadi lebih baik. Siapa tahu di kemudian hari akan ada
restoran khusus singkong. Sedikit Kang Yana juga
menguraikan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Cireundeu yaitu
ajaran Madrais yang sering juga disebut sebagai Sunda Wiwitan.
Kepercayaan ini diajarkan oleh seorang tokoh dari Kuningan yaitu Madrais
kepada Haji Ali yang selanjutnya dilestarikan oleh masyarakat Cireundeu
hingga sekarang. Setelah sesi dialog dan ramah tamah yang
berlangsung akrab, kami dijamu dengan macam-macam makanan terbuat dari
singkong seperti nasi singkong, buntil, rangining, cookies, kerupuk,
dendeng kulit singkong dan lain-lain.
Tidak lupa kami pun
berkunjung ke makam para leluhur kampong Cireundeu, sayang namanya tidak
bisa diketahui karena batu nisannya tertulis dalam huruf sunda kuno.
Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Sesuai dengan
jadwal, perjalanan harus diakhiri. Sebagai warga Cimahi ternyata masih
banyak hal-hal yang belum kita ketahui tentang segala seluk beluk Kota
tercinta ini. Perjalanan sehari ini baru mengungkapkan sedikit hal saja.
Masih banyak tokoh-tokoh lain di masa lalu yang patut dikenang karena
jasanya, seperti mBah Tumpang, KH Usman Dhomiri, Haji Tadjoedin, Bapak
Lurah Aman, mBah Wongso dan lain-lain. Semoga CIMAHI DALAM BINGKAI di
kemudian hari bisa terus berlanjut dan diikuti oleh lebih banyak warga
menaruh perhatian dan kecintaan pada Kota Cimahi. Sampai jumpa
nanti di CIMAHI DALAM BINGKAI 4 yang akan mengupas lebih jauh mengenai
daerah pecinan dan peran masyarakat Tionghoa di Cimahi.
 |
| Foto: Machmud Mubarok di makam Wira Suta, Cipageran |