Thursday, November 17, 2016

Bertandang ke Rumah Tua Cibeureum yang Merana

Setiap kali saya melintas jalan raya Cibeureum dari arah Bandung menuju Cimahi, tepat di seberang SMAN 13 Cimindi, saya selalu menoleh ke arah rumah yang tertimbun rapat pepohonan. Sebuah rumah tua yang wingit dan beraura mistis. Rumah itu cukup besar bernuansa kolonial, khas rumah hunian para tuan tanah tempo dulu. Rumah yang menyimpan pesona sekaligus angker, dengan atap langit-langit yang menjulang tinggi. Enam buah pilar penyangga di depannya berdiri kokoh dan sebuah balkon diatasnya menambah kesan anggun yang seakan-akan hendak menunjukan wibawa pemiliknya. 

Suatu hari saya pernah memberanikan diri untuk masuk ke halaman rumah itu. Saya melangkah perlahan memasuki pelataran rumah. Saya menengok ke kanan kiri, mengendap-endap ragu dan memperhatikan sekeliling seperti maling. Saya berharap ada seseorang di dekat situ, dengan maksud akan mengajaknya ngobrol atau sekedar bertanya-tanya tentang rumah itu. Tetapi tak seorangpun saya temui disana. Sepi. Saya berusaha mendekat hingga hampir memasuki teras. Namun saya urungkan untuk memasukinya lebih jauh. Rumah itu tampak kosong dan tidak terawat. Tembok-tembok yang kusam dan cat-catnya yang mengelupas. Saya mengitari pandangan ke sekililing, sekaligus membayangkan suasana rumah itu disuatu lini masa yang lampau ketika zaman tengah menjadi milik si empunya rumah. Tidak banyak yang saya perbuat kecuali mengambil foto beberapa bagian sudut rumah itu. Meskipun siang hari dan lokasi rumah itu tepat berada dipinggir jalan raya yang riuh oleh bising kendaraan, saya merasa seperti disergap kesunyian yang asing. Semacam ketakutan yang ganjil.

Bagian depan (foto: Iwan Hermawan)
                                                                                              ***

Rumah  tua itu berada di daerah Kebon Kopi, dipinggir jalan raya Cibeureum, Cimahi. Letak rumah itu agak menjorok 100 meter ke dalam dari sisi jalan raya. Sejak dijadikan lokasi perusahaan taksi, sebidang lahan di depan dan samping sebelah kiri rumah itu kini menjadi terang dan lapang. Jalan masuk menuju rumah itupun sekarang sudah dipasang paving block. Sebelumnya kondisi disekitar rumah itu sangat sepi dan tertutup oleh rimbunnya pepohonan dan semak-semak, sehingga kesan suram dan angker sangat terasa di rumah itu. Saya mendapatkan kesempatan langka untuk menelusuri detail rumah itu ketika mengikuti acara "Jelajah Kebon Kopi" bersama komunitas Tjimahi Heritage, Minggu 31 Januari 2016. 

Rumah itu memiliki struktur bangunan yang unik dengan desain yang sangat khas. Ciri arsitektur kolonial sangat kental melekat pada rumah ini. Rumah bergaya indisch stijl ini memiliki teras depan yang luas dan tinggi. Hal itu ditandai dengan halaman teras yang ditopang oleh enam batang pilar doric yang tinggi dan kokoh dengan dekorasi artistik di setiap pilarnya. Bagian atas rumah ini dikelilingi “cornice” dengan hiasan kuncup-kuncup berbentuk ghada yang unik dan berjejer pilar-pilar kecil seperti pagar simetris terbuat dari tembok. Bagian cornice didepannya dihiasi ornamen bunga-bunga melati. Kanopi yang terbuat dari seng yang ditopang enam siku besi yang meliuk-liuk selain menimbulkan kesan artistik, kanopi itu berfungsi untuk menahan tetesan air hujan agar tidak langsung jatuh mengenai teras. Di samping kiri kanan teras depan rumah ada terdapat dua gapura berpintu kayu dengan masing-masing diberi hiasan aksen berbentuk dua telapak tangan yang menjuntai ke bawah.

Atap balkon (foto: Iwan Hermawan)

Kesan kokoh dan anggun dari rumah ini dilihat dari tiga pintu utama yang tinggi dan lebar. Di atasnya masih terdapat ventilasi yang terbuat dari ukiran besi dengan detail yang rumit dan klasik. Apabila ketiga pintu itu dibuka lebar-lebar, bagian dalam rumah ini akan mendapatkan cahaya dan udara yang melimpah. Jendela-jendela kayu yang masih kokoh terpasang disamping, berderet hingga ke belakang rumah. Di dalam rumah ini terdiri dari beberapa kamar dan ruangan-ruangan yang dibatasi oleh semacam lorong hingga ke belakang. Diatas tiap pintu-pintu kamarnya masih terdapat arsiran ornamen berbentuk tangan. Di bagian belakang rumah ada semacam ruang terbuka dan ditengahnya terdapat sebuah sumur.

Rumah besar dan tua terkesan angker dan tidak terawat karena lama dibiarkan kosong tak berpenghuni ini sangat terlihat dari lantainya yang kusam dan berdebu. Beberapa bagian dindingnya sudah mengelupas, warnanya sudah memudar. Plafon dan langit-langitnya ada sudah jebol, bahkan ada bagian langit-langit yang terbuat dari bilik bambu mesti ditopang oleh sebatang bambu. Kesan kuno dan menyeramkan dari rumah ini adalah dengan pintu dan jendelanya yang tertutup rapat. Teralis jendela dan engsel besinya sudah banyak yang berkarat, sehingga menimbulkan bunyi berderit jika daun jendela itu dibuka. Rumput ilalang dan semak belukar tumbuh di dalam rumah pada sebidang lahan yang dibiarkan kosong. 

***

Ornamen di tangga teras (foto: Iwan Hermawan)
 
Lahan di Rumah Tua ini sangat luas. Disamping kiri terdapat halaman kebun yang ditumbuhi pepohonan dan tumbuhan merambat, lebih menyerupai semak belukar yang tak terawat. Di bagian belakang rumah, juga masih ada beberapa bangunan-bangunan berupa petak-petak ruang yang entah difungsikan sebagai apa. Barangkali sebagai kamar-kamar para pekerja atau semacam gudang. Kondisinya pun tak kalah suram. Terbengkalai begitu saja, tanpa atap. Seperti sisa-sisa bangunan yang pernah terkena musibah kebakaran. Didalam ruangan-ruangan itupun sudah ditumbuhi pohon-pohon dan tanaman dengan sulur-sulur yang menjulur.

Tak sampai disitu, dipojok belakang terdapat jalan kecil menyerupai lorong. Di ujung lorong jalan yang dibatasi oleh tembok menyerupai benteng, terhampar areal pemakaman. Makam-makam keluarga pemilik atau leluhur keluarga pemilik rumah tua itu dimakamkan disini. Makam-makamnya terbuat dari lapisan batu dan marmer. Sepintas tampak seperti makam-makam pada umumnya. Tak ada tanda-tanda pemakaman seperti kuburan Belanda. 

Ornamen dinding (foto: Iwan Hermawan)

Hiasan pada dinding dalam (foto: Iwan Hermawan)

Pintu samping (foto: Iwan Hermawan)

Gagang kunci pintu (foto: Iwan Hermawan)

 
Tempat parkir taksi

Halaman belakang

Bangunan di belakang

Di ruang tengah

Samping rumah

Di dalam rumah bagian dapur

Sumur

Ruang terbuka bagian belakang

rumput liar tumbuh

Halaman belakang

Halaman samping

Pohon tumbuh di dalam ruangan

Tertutup tumbuhan liar

Jalan setapak menuju makam
Jendela samping
Tangga teras
Belakang rumah
Tjimahi Heritage, "Jelajah Kebon Kopi"
Di halaman depan
Bagian samping
Ornamen telapak tangan
Teras
Lantai
Jendela besi kamar
Lorong ruangan dalam
Pintu belakang
Samping kiri belakang rumah
Nisan Wangsadikrama
Nisan Rd. Hanapi Wangsadikrama

Pemakaman

No comments:

Post a Comment