Monday, July 25, 2016

Di balik sejarah Kaum Cimahi ada kisah peramal Jerman

“Kaum Cimahi dulunya permukiman lama atau tua dan tempat tinggal sejumlah orang Belanda, Indo Belanda, Jerman, Indo Jerman," kata Machmud.

Merdeka.com, Bandung - Hampir di setiap daerah di Jawa Barat terdapat tempat-tempat bernama kaum atau dalem kaum. Tempat ini biasa berlokasi di pusat kota, satu komplek dengan Masjid Agung, alun-alun dan pusat pemerintahan atau pendopo. Begitu juga dengan Kota Cimahi yang memiliki Kaum Cimahi. Sebagaimana sejarah kota, Kaum Cimahi memiliki kekhasan tersendiri yang berbeda dengan kaum-kaum lain.

Hasil penelusuran Komunitas Tjimahi Heritage, Kaum Cimahi termasuk salah satu tempat paling tua di Kota Cimahi. Posisinya kurang dari satu kilometer dari Masjid Agung Cimahi.

“Kaum Cimahi dulunya permukiman lama atau tua dan tempat tinggal sejumlah orang Belanda, Indo Belanda, Jerman, Indo Jerman yang berbaur dengan pribumi. Sejak lama mereka hidup rukun berdampingan,” kata Ketua Komunitas Tjimahi Heritage, Machmud Mubaraq, kepada Merdeka Bandung, Senin (25/7).

Machmud mengungkapkan, hingga kini masih terdapat keturunan dan peninggalan orang Belanda dan Jerman di Kaum Cimahi. Keturunan mereka sebagian masih menempati rumah-rumah di sekitar kaum. Salah satunya adalah keluarga Herman Hendrick yang kemudian memilih menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Meski sudah menjadi WNI, keluarga Herman Hendrick masih menjalin komunikasi dengan leluhurnya di Jerman.

“Begitu juga dengan keluarga orang-orang Belanda masih menjalin komunikasi dengan Belanda. Komunikasinya memakai Bahasa Sunda sangat halus, karena dari dulu mereka lahir dan tinggal di Cimahi sebelum beberapa dari mereka ada yang pulang ke Belanda,” tuturnya. Mengenai keturunan Herman Hendrick, Machmud mengatakan mereka sangat terbuka. Dalam acara Jelajah yang menjadi program rutin Tjimahi, keluarga Herman Hendrick terbuka menerima kunjungan peserta.
“Mereka mau memperlihatkan rumah yang suasananya klasik banget, dengan tekel dan lampu hias yang masih aktif,” katanya.

Herman Hendrick hidup di masa 1944-1980. Dia bekerja sebagai pegawai administrasi perkebunan di Subang. Herman Hendrick adalah Indo-Jerman, ibunya berasal dari Solo. Setelah pensiun, mereka menetap di Cimahi. “Di masa lalu yang tinggal kawasan kaum bukan tentara, tetapi sipil,” katanya. Uniknya, sambung Machmud, Herman Hendrick memiliki keahlian meramal. Keahliannya ini cukup dikenal dan menjadi buruan para tamu yang mencari peruntungan.

Para tamu Herman Hendrick kebanyakan dari Batavia, terutama kalangan pejabat. “Sayangnya anak-anaknya tidak ada yang memiliki kemampuan meramal,” kata Machmud seraya tertawa.
Dalam program jelajah bertajuk “Nyucruk Galur Sejarah Kaum Cimahi” itu, Tjimahi Heritage mengundang sejumlah narasumber yang merupakan sesepuh yang tahu seluk-beluk Cimahi, antara lain Cinta Sari yang merupakan perempuan asli kelahiran Kaum Cimahi.

***

sumber: http://bandung.merdeka.com/halo-bandung/di-balik-sejarah-kaum-cimahi-ada-kisah-peramal-jerman-160725g.html
 sumber foto: dokumentasi Tjimahi Heritage @ Arief Robiyansyah dan Bandung Merdeka.com







Thursday, April 14, 2016

Cimahi sebagai Kota Wisata Militer: Sebuah Utopia?

Teks & Foto: Ek Ing

Mewujudkan Cimahi sebagai kota wisata militer pertama di Indonesia apakah sebuah utopia? Sebuah mimpi ideal dari para pegiat wisata, namun sulit untuk diwujudkan pada kenyataannya. Pertanyaan inilah yang terus berkutat dalam benak saya selama mengikuti kegiatan Komunitas Tjimahi Heritage.
Tanpa bermaksud untuk memperkecil usaha dan peran komunitas lainnya yang ada di kota Cimahi sendiri, adalah komunitas Tjimahi Heritage, yang secara aktif mengulik keberadaan berbagai bangunan lama, sejarah dan peristiwa yang terjadi pada masa lalu di setiap sudut kota Cimahi. Membungkusnya dalam bentuk paket jalan-jalan semacam city-walk yang apik. Kemudian merangkainya dalam cerita yang menarik.

Hebatnya, semuanya gratis! Jalan-jalan terus dapat ilmu.
 
Komunitas Tjimahi Heritage
 
Mengangkat konsep wisata heritage kota tua tentu saja bukan hal baru. Tapi wacana membuat kota Cimahi sebagai kota wisata militer dengan memperbolehkan warga sipil mengunjungi sejumlah bangunan militer bersejarah, berkeliling barak TNI serta boleh melihat langsung latihan kemiliteran tentu saja bukanlah tugas yang mudah.
  
Utopia? Hanya waktu yang bisa membuktikan.

Bersama Komunitas Tjimahi Heritage
 
Minggu, 03 April 2016 ada sekitar tiga puluh peserta berkumpul di pelataran parkir stasiun kereta Cimahi untuk menelusuri sejarah stasiun kereta api, dalam hal ini Stasiun Cimahi dan daerah sekitarnya sebagai pusat militer, 'station en omgeving'.
   
Ciri khas arsitektur bangunan Stasiun Cimahi bergaya artdeco terlihat sangat menonjol pada berbagai ornamen yang masih dipertahankan bentuk aslinya. Pintu masuk terbuat dari kayu jati dengan ventilasi berbentuk setengah lingkaran di bagian atas pintu. Ventilasi tersebut dihiasi kaca patri berwarna kemudian ditutupi dengan teralis besi. Disamping kiri kanan pintu terdapat jendela dengan gaya serupa.

Bagian dinding bangunan dipisahkan oleh lis yang berwarna gelap pada bagian bawah sedangkan bagian atas berwarna krem. Ruang tunggu memiliki atap dari konstruksi baja dan plat besi. Diantara ruang loket tket dan ruang tunggu terdapat pintu pembatas yang sudah berusia ratusan tahun.

Dibangun sekitar tahun 1884 untuk kepentingan militer, Stasiun Cimahi pada awalannya memiliki 5 jalur rel namun sampai saat ini tinggal 3 rel yang masih aktif digunakan.
 
Stasiun Cimahi: sebagai daerah garnisun pada jaman Belanda, jalur kereta api digunakan sebagai sarana pengangkutan logistik militer dari Batavia ke Cimahi.

Gedung Kuno di sekitar Stasiun Cimahi
 
The Historich 

Bangunan seluas 870 meter persegi ini tampak kokoh dengan 4 pilar besar tepat di bagian depan bangunan utama dengan sayap barat dan timur di sampingnya. Bangunan The Historich ini dianggap bergaya arsitektur 'Indicy Impire Style' dengan ciri khas berpilar banyak.

Gedung ini sempat berganti nama beberapa kali. Pada jaman awal era kemerdekaan diganti menjadi 'Balai Pradjoerit.'  Kemudian diganti lagi menjadi Gedung Sudirman serta sempat dipakai sebagai  gedung DPRD Cimahi.   Saat ini fungsi gedung ini telah berubah menjadi gedung serba guna dan bisa disewa untuk  berbagai kegiatan. Misalnya, saat bersama peserta Tjimahi Heritage berada di gedung The Historich, saat itu sedang ada acara resepsi pernikahan.
 
Gedung The Historich dibangun pada tahun 1886. Dulu bernama Sociated voor Officieren - Tjimahi, terletak diantara Jl. Gatot Subroto dan Jl. Stasiun. Bangunan ini merupkan tempat hangout-nya para perwira militer KNIL untuk acara pesta dansa, minum dan main billiard jaman dulu.
 
 Jalan Sukimun, pabrik roti dan tempat penjagalan.
 
Masih bersama dengan Tjimahi Heritage, kita menyelusuri kembali jalan-jalan di sekitar stasiun. Adalah jalan Sukimun, dengan pangkalan ojek motor di ujung jalan menjadi destinasi berikutnya. Ada bekas bangunan besar yang terbengkalai di salah satu sudut jalan. Bangunan itu dulu berfungsi sebagai rumah penjagalan hewan ( rph ).

Masih di sekitar jalan Sukimun, ada bekas pabrik roti yang menarik perhatian semua peserta untuk berhenti sejenak dan mengambil photo-photo sepotong dinding bekas pabrik yang meninggalkan sisa arsitekturnya. Sayang kondisi bangunan pabrik sudah tertutup oleh rumah penduduk.
 
 Mengatakan bahwa pihak pemkot Cimahi bersikap apatis tentang wacana menjadikan kota Cimahi sebagai kota wisata militer tentu saja tidak benar. Pada saat kegiatan 'station en omgeving' - perwakilan dari bidang pariwisata dinas koperasi perdagangan dan industri kota Cimahi turut hadir dan memberikan harapan yang cukup tinggi.

Lampu hijau sudah digulirkan.

Di kota Cimahi terdapat 13 pusat pendidikan militer. Kebanyakan Pusdik tersebut memiliki nilai sejarah yang sangat menarik karena merupakan bekas peninggalan gubernur WillemDaendels, tapi harus diakui untuk menjadikan semua bangunan tersebut menjadi objek wisata masih berupa mimpi.
 
Nama Sukimun diabadikan sebagai nama jalan sebagai penghargaan atas aksi heroiknya sebagai mata-mata untuk mengawasi keberadaan pasukan Belanda di kawasan garnisun sehingga menjadi buronan yang paling dicari-cari oleh Belanda. Di salah satu ujung jalan inilah Sukimun dibantai oleh Belanda. 
 
 Tjimahi Heritage : gedung dan bangunan lainnya
 
 Perjalanan bersama Tjimahi Heritage minggu itu meninggalkan sekelumit cerita dan tanya. Sebagai bekas kota garnisun, kota Cimahi memiliki karakter tersendiri dengan berbagai bangunan bersejarah  akan sungguh sayang kalau sampai dibiarkan hilang tanpa bekas.

Dibutuhkan partisipasi pegiat dan anggota komunitas Tjimahi Heritage serta  kelompok lainnya untuk turut berperan aktif mengulik sejarah, menyambung kembali benang-benang merah yang tersebar sehingga menjadi sebuah denah atau peta blue-print potensi wisata heritage kota Cimahi.

Dan yang terakhir, mimpi untuk menjadikan kota Cimahi sebagai kota wisata militer akankah berupa utopia masih mempunyai halangan besar. Salah satu alasannya adalah rahasia militer nasional yang harus tetap dijaga. 
 
Salah satu bangunan lama yang terdapat di sekitar jalan Stasiun, rumah bekas peninggalan Belanda yang kini telah berganti kepemilikan. Apakah ciri khas bangunan ini ada jaminan akan tetap bertahan?

rumah tua disekitar pusdik militer angkatan darat
 

Sunday, March 27, 2016

Resensi Film Max Havelaar

Oleh: Mas Wid

Semalam saya nonton film Max Havelaar, sebuah film panjang yang mencekam. Nyaris tanpa diiringi ilustrasi musik, hanya suara-suara serangga di hutan pedesaan. Ketiadaan musik ini justru membuat suasana jadi semakin mencekam. Fons Rademaker sang sutradara berhasil memotret dengan baik suasana suram di pedalaman Lebak Banten pada pertengahan abad ke 19.

Di jaman Orde Baru film ini dilarang diputar, barangkali karena menggambarkan betapa brutalnya perilaku pejabat di negeri ini. Mereka merampok bukan memimpin. Mereka mengambil bukan memberi. Dan mentalitas seperti itu bahkan masih ada hingga hari ini. Bukankah orang jahat dan orang baik bisa berada di mana saja, apapun suku bangsanya.

Film ini diawali dengan adegan klasik ketika si Pantang, kerbau kepunyaan Saija, diserang seekor harimau. Saija bersembunyi di bawah perut si Pantang sementara tanduknya mengoyak perut harimau. Usus harimau terburai dan tewas seketika. Orang-orang bersorak sorai, si Pantang jadi pahlawan. Sayang kegembiraan itu sebentar kemudian pudar, karena anak buahnya Adipati lewat dan dengan semena-mena mengambil si Pantang begitu saja. Senang dan susah bertukar dengan sangat cepat, tetapi bagi rakyat kecil pada umumnya kesusahan menetap lebih lama.

Saya bukan ahli film, tapi sedikit banyak bisa ikut merasakan permainan cantik dari para aktornya beserta dekorasi yang detail menggambarkan suasana pada jaman itu. Ada juga adegan di rumah lama Kebon Kopi, Cibeureum. Bangunan-bangunan yang ditampilkan pada umumnya anggun dan mempesona, seperti rumah dinas Bupati dan Istana Bogor tempat kediaman gubernur jenderal.
Sayang sekali hubungan percintaan antara Saija dan Adinda yang indah dan mengharukan kurang digarap secara detail. Film ini lebih menitikberatkan pada peran Max Havelaar dan pergulatannya melawan kesewenang-wenangan Adipati Lebak yang bekerjasama dengan oknum pejabat Belanda.

Film ini diakhiri dengan adegan di Istana Bogor, setelah Max Havelaar menyatakan berhenti dari jabatannya karena dipaksa pindah menjadi residen di Ngawi. Max Havelaar merasa bahwa dia telah gagal memperbaiki keadaan di Lebak karena persekongkolan jahat Adipati dan pejabat Belanda. Satu-satunya harapan adalah mengadu langsung kepada gubernur jenderal yang konon katanya baik hati. Tetapi gubernur jenderal tidak bersedia menemuinya. Max Havelaar terluka.

Akan tetapi sejarah mencatat, Max Havelaar tidak sepenuhnya gagal. Dua tahun kemudian di sebuah losmen di Swedia, dia menulis buku berjudul Max Havelaar yang menggegerkan Eropa. Buku tersebut sangat berpengaruh dalam mengubah kebijakan Belanda atas negeri jajahannya Hinda Belanda. Hermann Hesse peraih nobel kesusastraan dalam bukunya berjudul: Die Welt Bibliothek (Perpustakaan Dunia) memasukkan Max Havelaar dalam deret buku bacaan yang sangat dikaguminya. Bahkan Max Havelaar sekarang menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah di Belanda.
Barangkali patut dipertimbangkan, warga Tjimahi Heritages bisa nonton bareng film ini.



Rumah Kebon Kopi lokasi syuting Max Havelaar

Warung Cinta: Rumah Makan Bernuansa Jadul

 Foto & Teks: Mas Wid

Lokasinya di Jalan SMP Kota Cimahi. Ini rumah makan baru yang belum ada namanya. Jadi saya sebut saja WARUNG CINTA. Kenapa saya namakan warung Cinta? Karena Ibu Masnauli mengelola warungnya dengan penuh Cinta. Perabot-perabot tua yang eksotis disusun dan ditata dengan hati-hati. Kelihatannya setiap hari dilap dan dibersihkan juga dengan cinta. Yang paling mengesankan adalah cara beliau menerima tamu. Saya baru pertama kali berkunjung kesitu, tapi saya tidak merasa seperti sedang berada di restoran atau kafe, saya merasa seperti sedang berkunjung ke rumah saudara. Ibu Masnauli duduk satu meja menemani saya makan, lalu kami pun terlibat dalam obrolan yang mengasyikkan. Mulai dari cara mendidik anak, kenangan tentang almarhum ibunda, cara mengobati sakit jantung sampai cerita tentang koleksi perabotan kuno yang berjejer rapi di ruangan itu.

Beliau adalah contoh orang yang sudah selesai dengan dirinya. Anak-anak sudah dewasa dan bekerja, di rumah sebesar itu Ibu Masnauli hanya tinggal berdua dengan suaminya. Saya melihat rumah makan ini tidak dibuat dengan semangat menyala-nyala untuk cari duit melainkan lebih untuk menyalurkan rasa seni kuliner dan kecintaan pada kehidupan. Bukankah bisnis tiada lain adalah upaya untuk berbagi kebahagiaan pada sesama ? Apabila niat kita dalam berbisnis adalah untuk membahagiakan sesama, maka percayalah segala sesuatu akan menjadi indah pada waktunya.

Berkunjung ke Warung Cinta membuat saya semakin yakin, bahwa membuka restoran bukan sekedar urusan makan dan minum, melainkan sebuah upaya berkesenian untuk menghadirkan suasana dan rasa yang berbeda, yang dalam kehidupan sehari-hari kadang-kadang hilang dari genggaman kita. Makanannya? Terus terang enak dan murah. Pas di lidah pas juga di dompet. Sayang sekali perut dan lidah seringkali tidak kompak. Lidah masih ingin bergoyang tapi perut sudah tidak sanggup menampung sehingga saya terpaksa menunda beberapa pilihan menu untuk kunjungan berikutnya.

Pilihan menu yang ada semuanya khas Indonesia, tidak ada nama-nama asing seperti sausage, bratswust atau burger. Yang ada cuma tempe mendoan, tahu isi, ayam penyet dan makanan-makanan lokal lainnya. Sekalipun Ibu Masnauli pernah tinggal di luar negeri cukup lama, tetapi fanatisme dan kecintaan terhadap kuliner Nusantara ternyata tidak menjadi pudar.

Di sore yang redup dan gerimis, saya dan istri duduk di teras menikmati hidangan sambil membayangkan barangkali beginilah rasanya menjadi orang pensiunan. Santai dan rileks seolah-olah tidak ada lagi yang perlu dikejar dalam kehidupan ini. Dari piano di sudut ruangan mengalun lagu klasik seolah-olah membawa kita pada suatu masa lalu yang jauh. Saya tidak berani berjanji tapi suatu saat kelak saya pasti akan berkunjung lagi kesini.


Sisa sejarah yang hilang dan kenangan yang tercecer

Teks & foto: Iwan Hermawan

Dulu di Stasiun Cimahi dekat pintu perlintasan kereta api sebelah timur terdapat pipa unik yang berfungsi untuk pengisian air dari watertoren dibelakang locomotif uap.
Sewaktu masih SMP, saya sering main ke lintasan ini dengan bermodal kamera pinjaman yang masih memakai film rol hitam putih. Saya asyik jeprat-jepret disekitaran tempat ini.
Sekarang pipa unik ini sudah tidak ada.


Tempat pengisian air kereta uap

"Toot...tooot...teet...toot...toot...teeet...."
Jika anda tinggal di kota Cimahi pasti terbiasa oleh bunyi terompet yang berasal dari barak tentara. Bunyi terompet itu biasa melengking sekitar jam 6 pagi dan jam 10 malam.
Jika sedang senyap, bunyi terompetnya terdengar sangat jauh hingga ke utara sampai Alun-alun, hingga ke selatan sampai Cibeber.
 

Bunyi terompet ini sangat khas. Bunyi jam 6 sebagai tanda untuk bersiap apel pagi dan jam 10 untuk waktunya istirahat. Dahulu, jika sudah ditiupkan terompet ini, pasukan KNIL bersiap-siap lari menuju lapangan lengkap dengan klewang dan peralatan tempurnya, meninggalkan istri dan anak-anaknya di tangsi-tangsi. Jika malam tiba, bunyi terompet begitu lemah mendayu. Saatnya para serdadu KNIL untuk istirahat, dan tangsi pun gelap gulita.

Terompet KNIL

Sebuah bangunan yang berada di depan pintu masuk Pusdikarmed ini sekitar tahun 1942-1945 pernah digunakan sebagai kantor komandan Kamp Baros 6 Jongens Kamp yang di pimpin oleh Kapten Kunimoto. Sekitar tahun 1989 bangunan ini diratakan untuk pembangunan jalan tol Baros. Yang tersisa dari komplek kantor ini sekarang masih digunakan oleh TNI.