Sunday, February 21, 2016

Rumah Kolonial Bergaya Jawa

Oleh: Yayu Arundina
 
Sejak kecil dulu, hampir setiap saat saya selalu akrab melewati rumah ini. Sebuah rumah yang terletak di pinggir jalan besar. Banyak cerita yang melingkupi rumah ini. Angker. Rumah berhantu. Juga sering digunakan untuk syuting sinetron. Kabarnya sinetron yang angker juga.
Dari pinggir jalan besar, rumah ini hanya terlihat bagian atapnya saja. Mengapa? Di sekelilingnya terdapat banyak pohon-pohon besar. Dalam pikiran anak kecil, saya menyebutnya sebagai sebuah hutan. Hutan di tengah kota. Rindang dengan pepohonan dan gelap. Benar-benar menakutkan.
Lama tak mendengar kabar tentang rumah ini. Tiba-tiba, seorang kawan saya mengajak untuk menjelajahi rumah tua tersebut bersama dengan komunitas Tjimahi Herritage. Rumah ini terletak di pinggir jalan raya Cimahi-Bandung, khususnya daerah Kebon Kopi Cibeureum Cimahi. Minggu, 31 Januari 2016 kemarin, akhirnya saya dan teman-teman berhasil menjelajahi rumah bersejarah ini. Kondisinya sangat jauh berbeda dari bayangan masa kecil dulu. 

Bagian luarnya sudah sangat lapang. Pohon-pohon rindang yang dulu menutupinya sudah hilang, berganti taksi-taksi biru. Tinggal sisi bagian kanan yang masih menyisakan sejarah. Kabar terakhir, rumah ini sudah dijual pada sebuah perusahaan taksi terkenal di Bandung, Bluebird. Perusahaan tersebut berkomitmen untuk tetap melestarikan bangunan tersebut, walau harus merehabnya. Ya, rumah tua itu sudah banyak termakan usia. Rumah kuno itu saya namakan dengan RUMAH KOLONIAL BERGAYA JAWA. Bagian luarnya memang mirip dengan rumah gaya Eropa dengan tiang-tiang kokoh seperti bangunan Yunani. Kalau tidak salah berjumlah enam buah. Hanya di bagian atas ada nuansa lokal, yaitu ukiran bunga (melati).
Sebelum memasuki bagian dalam, kami mendapat penjelasan tentang sejarah kopi dan  rumah ini dari Kang Machmud Mubarok dan Kang Mochamad Sopian Ansori. Ternyata rumah ini terkait erat dengan sejarah perkebunan kopi. Boleh dibilang menakjubkan, karena melanggar kebiasaan syarat menanam kopi. Tanaman kopi biasanya membutuhkan ketinggian minimal 700 mdpl, sedangkan di sini hanya sekitar 650 mdpl. Jadi, pohon rindang yang dulu menyelimuti rumah ini ternyata oh ternyata adalah tanaman kopi yang tinggi-tinggi. Alasan inilah yang melatarbelakangi daerah ini bernama Kebon Kopi.
 
SEJARAH KOPI DI INDONESIA
 
Wow, ternyata kotaku ini bagian dari sejarah masa lalu yang kini sedang dibangkitkan lagi. Kopi nasional, produk Priangan, Produk Indonesia. Ah, rasanya bangga juga tinggal di kota yang termasuk bagian sejarah itu. Sekaligus juga miris mendengar kisahnya. Javana oh Javana! Kopi di tanah Priangan berasal dari wilayah Malabar India. Seorang kapten VOC, Adrian van Ommen membawa kopi Arabica pada tahun 1696. Pada awalnya, penanaman kopi di Indonesia ini mengalami kegagalan akibat banjir Batavia. Namun, akhirnya mambawa hasil setelah kopi tersebut ditanam di daerah Bidara Cina, Kampung Melayu, Sukabumi, dan Sudimara. Kopi-kopi inilah yang pada akhirnya membawa kejayaan pada VOC. Kopi-kopi tersebut berhasil menguasai pasaran dunia. Akibatnya, muncullah perjanjian VOC dengan para bupati Priangan untuk memperluas penanaman kopi di Priangan. Salah satunya adalah Bupati Cianjur, Aria Wiratanudatar. 
 
Pada tahun 1786, setengah kopi yang dihasilkan berasal dari lereng-lereng Gunung Gede di Cianjur dan sebagian lagi dari sekitar Bandung. Kejayaan kopi di pasar dunia membawa kemakmuran bagi VOCselama hampir dua abad, juga para bupati Priangan. Namun, kemudian akibat korupsi, VOC mengalami kebangkrutan hingga terjadi beberapa kali pergantian kekuasaan. Setelah menyengsarakan rakyat tahun 1876 Hindia Belanda ditimpa petaka dengan hancurnya tanaman kopi akibat penyakit karat daun. Penyakit itu meluas sehingga melumpuhkan perdagangan kopi dunia. Dalam situasi gawat tersebut, Brazil dan Kolombia akhirnya mengambil alih kekuasaan perdagangan kopi dunia sampai sekarang.
Setelah mendengar penjelasan sejarah perkebunan kopi, akhirnya kami dibagi menjadi dua rombongan. Secara bergantian, kedua rombongan itu menjelajahi bagian dalam rumah. Lalu, menjelajahi halaman belakangnya. 
   
MISTERI RUMAH TUA
 
Ketika memasuki bagian dalam, kawanku berkata, “ Aku kok seperti mengenal betul rumah ini. “
“Ya, jelaslah, wong kamu sering pulang ke Jawa. Pemilik rumah ini kan orang Jawa. Trenggalek !” jawabku sambil tersenyum.
 
Inilah kejutan pertama. Rumah bergaya kolonial ini bukan milik para bangsawan Eropa (Belanda) tapi milik pribumi. Seorang tuan tanah asal Trenggalek, Jawa Timur. Diperkirakan rumah ini milik Wangsadiredja. Kejayaan kopi membawa kemakmuran. Rumah inilah buktinya. Kemewahan arsitektur Eropa dipadukan dengan nuansa Jawa di bagian dalamnya. Salah satunya melalui pintu-pintu kayu yang kokoh dan tinggi, lengkap dengan kunci khas dari masa lalu. Besi-besi panjang yang terkait di bagian atas dan palang kayu. Itulah kejutan keduanya. Rumah ini bukan istana raja Eropa.
 
Rumah yang sangat luas ini memiliki enam buah kamar dengan ukuran yang cukup luas. Yang menarik, di tengah-tengah bagian rumah masih ada sumur yang masih terlihat bagus. Walaupun dikelilingi ilalang yang sangat tinggi. Miris hati ini ketika memasuki bagian dalam. Seperti VOC, rumah ini benar-benar diambang kehancuran. Beberapa bagian rumah tampak tak terawat. Atap-atap banyak yang tinggal menunggu waktu jatuh. 

Kejutan ketiga, ada di halaman belakang. Halaman yang masih memiliki nuansa hutan itu ternyata merupakan pemakaman keluarga. Kurang lebih ada lima baris makam dengan berbagai model makam. Cina dan Muslim. Sangat terawat. Bersih. Rapi. Tulisan di nisan sebagian besar menggunakan bahasa Sunda. Sayang, sebagian nama-namanya kurang jelas terbaca.
  Sebelum sampai kompleks pemakaman tersebut, kami harus menjelajahi hutan kecil dan juga jalan setapak yang dipenuhi dengan guguran daun-daun. Cukup tebal dan empuk ketika diinjak.
Saat pulang, setelah mendapat restu dari penjaga,  seorang kawanku yang lain mengambil beberapa buah Ganitri untuk dijadikan gelang yang unik. Buahnya berwarna biru terang. Bagian dalamnya berwarna coklat muda. Bergerigi.
Dengan terkumpulnya buah Ganitri di wadah, berakhir pula petualangan kami hari itu. Menjelajahi RUMAH KOLONIAL BERGAYA JAWA. Setelah itu, kami kembali berkumpul di teras depan untuk berkenalan dan membacakan novel Max Havelaar secara bergantian. Konon kabarnya, rumah tua ini pernah digunakan untuk syuting film salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia tersebut.
Menjelang dzuhur, kamipun membubarkan diri dengan membawa kenangan masa lalu, pengetahuan baru, dan kawan baru. Sampai jumpa di petualangan berikutnya, ya. Salam Sejarah! Salam Sastra!
Dari sejarah, kita bercermin untuk kebaikan di masa yang akan datang. Memaknai sejarah sami sareng memaknai hidup!
 
Machmud Mubarok (foto: Yayu)

Mochmad Sopian Ansori (foto: Yayu)

peserta jelajah

hiasan ornamen (foto: Yayu)

suasana di dalam rumah (foto: Yayu)

diskusi novel (foto: Yayu)
 

Sunday, December 20, 2015

Cimahi Dalam Bingkai 3: Sebuah Catatan

Oleh: Mas Wid

Di sela-sela kesibukan mengurus usaha, kali ini saya menyempatkan diri mengikuti kegiatan yang tidak biasa. Cimahi Dalam Bingkai 3. Pesertanya adalah sekelompok warga yang peduli dengan sejarah Kota Cimahi. Saya dan teman-teman sepakat untuk sejenak mengunjungi masa lalu. Voyage dari makam ke makam, dari kuburan ke kuburan, berusaha menggali kenangan dan menyusun puzzle satu demi satu dari cerita dan fakta yang terserak dimana- mana.

Susunan mozaik sejarah yang kami temukan sudah tentu masih jauh dari sempurna, tapi setidaknya satu langkah kecil sudah dimulai untuk lebih memahami masa lalu kita.
Yang pertama kami kunjungi adalah Kabuyutan Cipageran, sebuah kompleks seluas 4 hektar, yang terdiri dari pesawahan dan rimbunnya pohon-pohon yang masih kental menggambarkan suasana pedesaan. Tempat ini direncanakan sebagai miniature dari budaya asli kasundaan yang dulu pernah eksis di Cimahi. Yang sudah terealisasi adalah “batu satangtung” berupa replica dari Lingga dan Yoni lambang keserasian antara pria dan wanita, antara langit dan bumi, antara yang di atas dan yang di bawah antara yang nampak dan tidak Nampak, antara Yin dan Yang. Selanjutnya disini akan dibangun pula miniature suasana pedesaan Sunda beserta segala aksesorisnya seperti leuit, padaringan, halu, jubleg, hawu, pawon dll.

Menurut Aa Fajar sebagai salah satu pengelola Kabuyutan, disini juga akan dibangun beberapa contoh arsitektur bangunan Sunda asli sehingga generasi muda jaman sekarang bisa mengetahui apa yang dimaksud dengan jogog anjing, julang ngapak, limasan, bale nyungcung dan lain-lain. Semoga upaya ini bukan semata-mata untuk memelihara romantisme masa lalu, melainkan menjadi ajang belajar bagi kita semua, karena hanya dengan memahami masa lalu maka kita akan lebih bijak dalam memandang masa depan. Secara rutin pengelola Kabuyutan mengadakan diskusi untuk menggali dan memahami sejarah Kasundaan yang hingga kini belum terungkap seluruhnya. Tujuan selanjutnya adalah makam Cipageran yang terletak persis berseberangan dengan kuburan Cina Santiong. Disini kami tertegun, suasana mistis langsung terasa, terpesona dengan hawa yang sejuk dan keanggunan pohon-pohon beringin tua, hijau menghampar berikut akar-akar gantungnya yang menjuntai.

Di makam Cipageran ini ada makam Eyang Wira Sutawijaya dan istrinya Eyang Fatimah Sariwangi, konon mereka berdua adalah cikal bakal atau generasi pertama yang melakukan babad alas untuk membangun sebuah desa yang kelak berkembang menjadi kota Cimahi. Ada yang mengatakan bahwa Eyang Wira Sutawijaya sekalipun wujudnya hanya satu orang tapi kuburannya ada dua. Memang cerita, fakta dan legenda saling membelit, bercampur baur jadi satu. Sayang sekali tidak ada literature yang membahas kedua tokoh ini secara mendalam, bahkan Mak Ikah, kuncen kuburan, juga tidak tahu banyak. Saya juga mendengar bahwa pemakaman ini sering dijadikan tempat untuk tirakat, berpuasa dan tidur dibangunan kuburan selama tiga atau tujuh hari. Salah satu sahabat saya pernah menjalani laku disini, pada malam ketujuh dia mimpi melihat cahaya gemerlapan aneka warna, tak lama kemudian begitu terbangun di tangannya ada sebuah karembong (selendang) yang disulam dengan sangat indahnya, entah datang dari mana.

Disamping itu ada tokoh-tokoh lain dari masa lalu yang juga dimakamkan disini. Ada mBah Sayid, mBah Geleng, Patih Sumedang, Keluarga besar penyanyi Bimbo dan lain-lain. Yang unik adalah makam mBah Geleng, hanya terdiri tumpukan batu-batu tetapi dikelilingi oleh akar menjuntai dari pohon beringin disebelahnya, seolah-olah akar pohon itu sengaja merangkul, membentengi dan melindungi makam tersebut. Misteri alam yang belum terpecahkan. Tujuan kami selanjutnya adalah kompleks makam mBah Nurkarim di Kel, Cigugur. Beruntung kami bertemu dengan Kang Dadang Ramdhan, salah satu keturunan mBah Nurkarim , beliau bercerita banyak dan sangat membantu memahami sosok mBah Nurkarim dengan lebih baik.

Ratusan tahun yang lalu terjadi eksodus priyayi dari kerajaan Mataram , salah satunya adalah mBah Nurkarim. Tidak begitu jelas alasannya kenapa beliau memutuskan tinggal di kawasan Cigugur Cimahi, tetapi selanjutnya mBah Nurkarim dikenal sebagai salah satu tokoh dakwah terkemuka yang menyebarkan ajaran Islam di Cimahi. Ada yang menduga bahwa mBah Nurkarim adalah bagian dari prajurit Sultan Agung yang ikut serta dalam penyerbuan ke Batavia di abad ke 17, ada juga yang menduga bahwa mBah Nurkarim adalah utusan resmi Kerajaan Mataram di tanah Priangan mengingat bahwa pada saat itu tanah Priangan adalah daerah jajahan Mataram.

Salah satu keturunan dari mBah Nurkarim yang juga menjadi tokoh lokal yang disegani adalah Bapak Haji Abdul Halim yang menjadi tuan tanah di daerah Cigugur, Cibabat. Nama beliau diabadikan menjadi nama jalan di sebelah Kantor Dinas Sosial Prov. Jawa Barat. Sahabat kita Dadang Ramdhan adalah keturunan kelima dari Bapak Abdul Halim. Yang belum tergali adalah apa sesungguhnya peran sejarah dari tokoh-tokoh tersebut sehingga namanya terukir indah dalam kenangan masyarakat disitu. Tujuan kami selanjutnya adalah Kampung Cireundeu di Cimahi Selatan. Ciri khas dari peri kehidupan masyarakat Cireundeu adalah secara turun temurun menjadikan singkong sebagai bahan makanan pokok. Masyarakat disini tidak makan nasi beras, melainkan nasi singkong yang diolah sedemikian rupa sehingga rasanya tidak jauh berbeda dengan nasi beras.

Kami diterima dengan keramahan khas masyarakat Sunda pedesaan oleh tokoh-tokoh masyarakat Cireundeu, Abah Widi, Abah Opa dan Kang Yana. Abah Widi menguraikan panjang lebar mengenai sejarah terbentuknya komunitas masyarakat Cireundeu dan filosofi yang mendasari sikap masyarakat yang memilih untuk makan singkong seumur hidup mereka dan tidak makan nasi beras yang terangkum dalam kalimat berikut :

Teu Nyawah Asal Boga Pare,
Teu Boga Pare Asal Boga Beas,
Teu Boga Beas Asal Bisa Nyangu,
Teu Nyangu Asal Dahar,
Teu Dahar Asal Kuat


Apa yang dilakukan oleh masyarakat Cireundeu adalah bentuk kearifan local dalam hal keanekaragaman bahan pangan. Saya bermimpi bahwa santapan nasi singkong ini akan bisa lebih memasyarakat hingga ketahanan pangan menjadi lebih baik. Siapa tahu di kemudian hari akan ada restoran khusus singkong. Sedikit Kang Yana juga menguraikan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Cireundeu yaitu ajaran Madrais yang sering juga disebut sebagai Sunda Wiwitan. Kepercayaan ini diajarkan oleh seorang tokoh dari Kuningan yaitu Madrais kepada Haji Ali yang selanjutnya dilestarikan oleh masyarakat Cireundeu hingga sekarang. Setelah sesi dialog dan ramah tamah yang berlangsung akrab, kami dijamu dengan macam-macam makanan terbuat dari singkong seperti nasi singkong, buntil, rangining, cookies, kerupuk, dendeng kulit singkong dan lain-lain.
Tidak lupa kami pun berkunjung ke makam para leluhur kampong Cireundeu, sayang namanya tidak bisa diketahui karena batu nisannya tertulis dalam huruf sunda kuno.

Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Sesuai dengan jadwal, perjalanan harus diakhiri. Sebagai warga Cimahi ternyata masih banyak hal-hal yang belum kita ketahui tentang segala seluk beluk Kota tercinta ini. Perjalanan sehari ini baru mengungkapkan sedikit hal saja. Masih banyak tokoh-tokoh lain di masa lalu yang patut dikenang karena jasanya, seperti mBah Tumpang, KH Usman Dhomiri, Haji Tadjoedin, Bapak Lurah Aman, mBah Wongso dan lain-lain. Semoga CIMAHI DALAM BINGKAI di kemudian hari bisa terus berlanjut dan diikuti oleh lebih banyak warga menaruh perhatian dan kecintaan pada Kota Cimahi. Sampai jumpa nanti di CIMAHI DALAM BINGKAI 4 yang akan mengupas lebih jauh mengenai daerah pecinan dan peran masyarakat Tionghoa di Cimahi.

Foto: Machmud Mubarok di makam Wira Suta, Cipageran

Kolone Macan: Pasukan Brutal dari Tjimahi

Oleh: Iwan Hermawan

Berawal dari kesulitan pemerintah Kolonial Belanda menghadapi pemberontakan dan perlawan rakyat dengan cara gerilya, maka munculah gagasan untuk membentuk pasukan khusus yang efektif menghadapi gerilyawan, maka di bentuklah pasukan Marsose tanggal 20 April 1890, setiap unit Marsose terdiri dari 20 orang dengan dipimpin oleh sersan Belanda yang dibantu oleh kopral pribumi, pasukan ini selain dipersenjatai oleh karaben juga dengan klewang.

Marsose masih dirasa belum cukup oleh petinggi militer Belanda, maka dibentuk lagi suatu unit di dalam pasukan marsose yang bernama Kolone Macan, pasukan ini dipimpin oleh perwira asal Swiss Hans Christofell, dia kemudian dikirim ke Cimahi, dimana disana telah terbentuk suatu garnizun pasukan Belanda, di sini dia bertemu dengan banyak marsose kawakan dan memiliki pengalaman bertempur di Aceh, keberadaan mereka di Cimahi dalam rangka istirahat setelah peperangan berat di medan Aceh.

Christofell menghimpun anggota Marsose yang beringas, sangar dan jago berkelahi, pasukan ini dilatih di garnizun Cimahi. Selama di tangsi Cimahi yang damai itu mereka bosan dan merasa ingin kembali berperang di Aceh karena dunia mereka adalah peperangan dalam hutan, latihan Marsose bukanlah menembakan senapan tetapi memainkan klewang.Mereka tergolong pasukan yang sangat brutal dalam aksi-aksi pemberangusan perlawanan rakyat dan sering melakukan eksekusi di tempat, Kolone macan adalah bagian terkejam dari korps Marsose dan hanya dikirimkan hanya dalam Perang Aceh.

Menemukan Jalan Emmalaan F.34

Oleh: Machmud Mubarok

AKHIRNYA, ditemukan juga! Sepucuk surat bercap pos Amsterdam itu ditujukan kepada Yang Terhormat H Swartsenburg, beralamat di Emmalaan F34 Tjimahi. Laan adalah bahasa Belanda yang berarti Jalan. Kata lain untuk menunjukkan jalan dalam bahasa Belanda, antara lain weg dan straat. Sayang titimanggsa surat ini tidak terbaca. Tapi kemungkinan besar, ini melayang ke Cimahi saat zaman kolonial Belanda, sebelum Jepang datang. Awalnya saya mengira Emmalaan atau Jalan Emma adalah yang sekarang menjadi Jalan Sukimun. Mengapa demikian? Karena dulu, sekitar tahun 1890-an, di jalan itu berdiri dengan megah sebuah hotel bernama Hotel Emma.

Hotel itu kemudian direnovasi dan berganti nama menjadi Hotel Berglust. Administrateurnya atau pengelolanya adalah Tuan LGFJ Sterrenburg. Dia pula yang mengelola hotel Pension Tijhoff di Cantineweg, yang kini menjadi Toko Kue Sus Merdeka di Jalan Gatot Subroto Cimahi. Namun pencarian di Jalan Sukimun tak membuahkan hasil. Tak ada nomor rumah yang diawali huruf F.
Beruntung, pencarian makin mudah, ketika saya menemukan peta Tjimahi tahun 1940. Ini sebenarnya peta biasa yang sudah saya punya dan banyak pula bertebaran di internet. Namun, diteliti lebih jauh, ternyata peta yang ini lebih lengkap. Di peta itu dicantumkan nama sejumlah lokasi, termasuk nama jalan, secara jelas.

Di peta itu pula terbaca, walau agak sulit karena huruf-hurufnya kecil dan berdempetan, nama Emmalaan atau Jalan Emma yang berlokasi di Jalan Urip Sumohardjo sekarang. Kemarin sore, Minggu (15/11), saya menyempatkan mampir untuk mencari rumah F34 itu.
Motor saya jalankan perlahan-lahan, karena ingin melihat nomor rumah lebih jelas. Ternyata benar, rumah-rumah di sini berkode F. Dari sebelah utara, nomor rumah dimulai dari nomor 26. Agak deg-degan juga, khawatir tidak ada nomor 34. Sampai akhirnya tiba di pojokan sebelah selatan, ternyata itu dia rumah bernomor F34.

Rumah bercat putih itu masih menyisakan arsitektur zaman Belanda. Tapi bagian depannya sudah direnovasi dengan gaya arstitekur modern. Gerbang berwarna biru menutup rumah itu.
Saya hanya bisa memotret rumah itu dari luar. Karena hari sudah sore dan terburu-buru, saya tidak sempat bertanya-tanya soal siapa penghuni rumah itu sekarang. Rumah itu berada di sebelah timur Militair Hospital atau RS Dustira, bagian dari sebuah kompleks perumahan kecil yang membentuk setengah lingkaran. Bagian tengah kompleks itu berupa taman, yang sekarang disebut Taman Urip. Sedikitnya ada 9 rumah di situ. zaman kolonial, rumah-rumah itu dihuni perwira menengah tentara Kerajaan Belanda. Sekarang pun, penghuninya adalah para perwira menengah TNI AD. Jenderal Urip Sumohardjo, Kepala Staf TNI pertama, pernah tinggal di Cimahi sebelum Jepang masuk dan setelah Jepang menyerah. Apakah beliau pernah tinggal di kompleks ini? Perlu penelusuran lagi. (*)

Nama Jalan di Tjimahi Tempo Doeloe

Berdasarkan peta Tjimahi tahun 1941, dulu nama-nama jalan di Tjimahi, seperti ini:

1. HIS straat, sekarang Jalan Embang (sempat lama jadi Jalan SMP)
2. Cantineweg (sampai perempatan Kalidam-PasarAntri), sekarang Jalan Gatot Subroto
3. Schoolweg, sekarang Jalan Sukimun
4. Groote Post weg, sekarang Jalan Amir Machmud (sebelumnya Jalan Raya Barat, Jalan Raya Timur atau Jalan Raya Cibabat)
5. Tjisaroeaweg, sekarang Jalan Kolonel Masturi
6. Babakanweg, Jalan Babakan, sekarang jadi Jalan Wiganda Sasmita
7. Pandhuisweg, sekarang Jalan Pecinan
8. Pasar Antriweg, sekarang Jalan Gandawijaya
9. Kampementweg, sekarang Jalan Gatot Subroto
10. Gedungampatweg, masih Jalan Gedung Empat
11. Gedong Delapanweg, sekarang Jalan Sriwijaya
12. Hospitalweg, sekarang Jalan Dustira
13. Magazijnweg, sekarang Jalan Pasir Kumeli
14. Van Heutzweg, sekarang Jalan Kalidam
15. Williamstraat, sekarang Jalan Ratulangi
16. Emmalaan, sekarang Jalan Urip Sumohardjo
17. Prins Hendriklaan, sekarang Jalan Sudirman
18. Barosweg, sekarang Jalan Baros
19. Stationweg, masih Jalan Stasiun
20. Tuinweg, sekarang Jalan Simpang
22. Gang Leupen, sekarang Jalan Bapa Ampi
23. Gang Doger, sekarang Jalan Kebon Sari
24. Manegeweg, sekarang jalan tembus dari Armed sampe ke belakang Brigif

Teks: Machmud Mubarok