Mereka punya waktu setengah jam menuju stasiun kecil di Parang Koeda
dengan berjalan kaki. Beberapa hari lalu, jalur kereta api ke Batavia
selesai diperbaiki. Jalur sebaliknya yang ke arah Bandung masih rusak
parah karena banyak jembatan hancur dalam pertempuran.
Sebelum perang, Parang Koeda adalah tempat yang sepi. Kawasan itu
kemudian menjadi ramai oleh serdadu-serdadu Jepang yang hilir mudik dan
membongkar-muat perlengkapan perang dari kereta-kereta barang. Keempat
orang Belanda itu berusaha membaur dengan keramaian. Seorang penjaga
yang curiga mendekati mereka, berusaha memotong pembicaraan. Tiba-tiba
orang Jepang itu bertanya pada Si Jerawat dengan bahasa Inggris campur
Melayu.
“Are you ‘orang oranda’?” katanya. “Yes,” jawab Si Jerawat. Si
penjaga bertanya kemana mereka akan pergi. Si Jerawat menjawab bahwa
perkebunan tempat mereka bekerja ditutup dan mereka akan pergi ke kantor
pusat di Batavia. Di sana mereka juga akan melapor kepada pihak Jepang
tentang penutupan itu.
Jan bergabung dalam perbincangan yang mulai menyinggung soal
politik. Perbincangan itu menurutnya jadi aneh karena terjadi di tengah
kesibukan militer Jepang di sebuah stasiun kereta. Kecurigaan sang
penjaga perlahan luntur. Setelah satu jam menunggu akhirnya terdengar
suara mesin uap dari kereta api yang datang.
Mereka segera mencari tempat yang sepi dalam gerbong. Dalam kebisuan
dan pikiran masing-masing mereka memandang ke luar jendela.
Dari
sekian banyak negeri yang mereka lewati dalam perjalanan dari Belanda,
negeri inilah yang paling indah di mata mereka. Jutaan zamrud bak
terhampar di tanah yang begitu subur dan hijau ini.
Di stasiun Depok sejumlah penumpang naik. Mereka adalah tentara
Jepang yang baru tiba dari negerinya dalam perjalanan berminggu-minggu
di atas kapal perang kecil bagaikan ikan sarden dalam kaleng. Mereka
tampak lusuh, lelah dan kurang semangat. Tanpa insiden keempatnya tiba di Batavia. Kuiper mengucapkan selamat
tinggal kepada yang lain karena ingin mengunjungi tunangannya. Mereka
berjabat tangan, singkat namun penuh perasaan. Tak lama kemudian Kuiper
pun hilang dari pandangan. Ketiga lelaki itu tetap memandang ke arah
Kuiper seakan bertanya dalam hati apakah mereka masih bisa bertemu
dengannya di kemudian hari.
Mereka lalu menuju pasar untuk membeli beberapa barang yang mereka
perlukan. Usai berganti baju dan memangkas rambut, mereka kembali
tampak seperti orang-orang yang terhormat. Tugas selanjutnya adalah mencari Kapten yang masih bebas bersama 25
rekan mereka. Kuiper telah memberi sebuah alamat dan ke sanalah mereka
akan mencarinya. Ketiganya berjalan ke arah bekas gedung Hotel Des Indies, dimana
bawahan Kapten tinggal sambil menunggu jemputan ke kamp tawanan perang
yang sedang dibangun. Dengan ramah ketiganya disambut dalam hotel yang
bising oleh suara tentara-tentara mabuk yang berkencan dengan perempuan
setempat. Mereka bertanya pada beberapa orang di sana: “Apa kalian siap
bertempur dengan tentara pendudukan?”
Yang mereka dengar kemudian hanyalah tawa. Kerapuhan mental telah
menghilangkan rasa peduli dalam hati para prajurit itu. Dengan penuh
kekecewaan mereka kembali ke jalan untuk mencari sang kapten dan tempat
untuk bermalam. Akhirnya mereka menemukan alamat yang diberikan Kuiper. Di sana
mereka bertemu dengan seorang lelaki tua yang berhasil lari dari kejaran
bandit-bandit haus darah yang makin merajalela di Palembang sejak
kedatangan Jepang. Dia kabur dengan menumpang sebuah perahu yang
menyeberangi Selat Soenda. Dalam perjalanan itu, malaria telah
menghancurkan daya tahan tubuhnya. Insting untuk bertahan hiduplah yang
membuatnya berhasil pulang. Lelaki tua itu kini sudah sehat. Dengan
berapi-api dia sampaikan tekadnya untuk melawan tentara pendudukan
Jepang.
Cerita lelaki tua itu membuat semangat mereka bangkit lagi. Saat
lelaki tua itu mendengar rencana mereka, dia menawarkan diri untuk
ikut. Jan meyakinkan Pak Tua bahwa yang terpenting saat ini adalah
kesehatannya. Dia merasa tenang setelah Jan berjanji akan memberikan
info dimana mereka bisa bertemu nanti jika kesehatannya pulih. Si Jangkung secara mengejutkan membuka tas kecilnya, mengambil sebuah
pistol dan memberikannya kepada Pak Tua. “Ini untuk berjaga-jaga, jika
waktunya sudah tiba,” kata Si Jangkung. Setelah dijamu makan ketiga pria itu minta ijin untuk beristirahat.
Mereka tak tahu kalau saat mereka tertidur pulas, Pak Tua duduk di depan
kamar menjaga mereka sambil memegang pistol.
Pagi-pagi sekali Pak Tua membangunkan mereka, tapi sedikit pun tak
tampak di wajah orang tua itu tanda-tanda kurang tidur. Di balik
keceriaannya, dia menyembunyikan kesedihan karena tak bisa menyertai
mereka pergi. Perpisahan di antara mereka begitu emosional dan tak
seorang pun tahu bahwa “selamat tinggal” ini akan terjadi selamanya. Ketiga lelaki itu kembali ke stasiun dan kali ini mereka menuju
Buitenzorg. Mereka mendapat informasi samar-samar bahwa di sana lah
mereka bisa melakukan kontak dengan para pemberontak. Ketika tiba,
mereka berpencar untuk mencari keterangan yang lebih jelas.
Hari berikutnya mereka bertemu di suatu tempat. Jan berhasil
melakukan kontak dengan seseorang berkat informasi yang didapat dari ibu
kawannya. Orang itu bernama Kelter, bekas komandan garda kota yang
kini menjadi pemimpin pemberontak. Mereka spesialis dalam penyelundupan
senjata dan kegiatan mata-mata. Jan punya firasat bagus kalau si
Kelter ini akan menjadi kontak terbaik mereka di kemudian hari. Si Jangkung juga punya informasi penting soal senjata dan
dimana tempat penyembunyiannya. Si Jerawat mendapatkan sebuah alamat
di Batavia dimana mereka bisa bertanya soal kemungkinan mendapatkan
kontak dengan pemberontak di gunung-gunung. Mereka diskusikan semua
informasi itu lalu membagi tugas.
Si Jangkung diminta mencari senjata yang disembunyikan beserta
amunisinya.
Si Jerawat disuruh pergi ke Batavia untuk mendatangi alamat
itu. Sementara Jan akan tinggal di Buitenzorg untuk memperkuat kontak
dengan Kelter. Tiga hari kemudian mereka berjanji untuk bertemu lagi;
jika salah satu di antara mereka tidak muncul, kemungkinan besar dia
sudah ditangkap oleh Jepang. Yang lain tidak akan mencari kawannya yang
hilang untuk menghindari bahaya yang lebih besar. “Sepakat?” “Oke!”.
Mereka pun berjabat tangan lalu berpisah. Jan menemui ibunda Kelter keesokan harinya. Dari beliau, Jan
mendapatkan beberapa nama kenalannya yang harus dia temui.
Sebuah
kacamata hitam dia pakai untuk menyamarkan diri. Pertama-tama dia harus
menemui sejumlah wanita yang suaminya menjadi teman sependeritaan di
kamp Jepang. Dia ingin menyampaikan kabar tentang mereka kepada
wanita-wanita itu. Kepada salah seorang di antaranya Jan mengabarkan
bahwa suaminya terbunuh di Kalidjati dan menghembuskan nafas terakhirnya
di pangkuan Jan. Kata-kata terakhir yang sempat dibisikkannya pada Jan
saat itu adalah nama istrinya. Hanya genggaman tangan yang Jan bisa
berikan kepada wanita itu sebagai tanda simpati. Dia harus melanjutkan
perjalanan, tugasnya belum selesai…
Bersambung...
Sumber:
http://tempodoeloe.com/2014/11/12/kisah-tiga-tentara-knil-bagian-4/
Tuesday, October 6, 2015
Kisah Tiga Tentara KNIL ~ Bagian 5
Ketika Jan berjalan tiba-tiba seorang serdadu Jepang
menghentikan langkahnya. Sambil mengarahkan senapan ke tubuh Jan, sang
serdadu menghampirinya. Jan berharap ini bukanlah akhir dari misinya.
Namun si Jepang berusaha menjelaskan dalam bahasa campur aduk bahwa
setiap orang harus membungkuk di depan serdadu Jepang. Tak ingin
mendapat masalah, Jan langsung membungkuk sambil mengumpat dalam hati.
Pagi berikutnya usai sarapan, dia bertemu lagi dengan Kelter. Darinya dia mengetahui tempat senjata disembunyikan, yaitu dalam gedung sekretaris jenderal di tengah kota yang kini ditempati Kempei, polisi rahasia Jepang. Mereka berjalan melewati gedung itu dan melihat para penjaga berdiri di depannya dengan senjata mesin. Tapi keduanya tak menemukan seorang serdadu pun di belakang gedung yang berbatasan dengan rel kereta. Sejajar dengan lintasan kereta ada sebuah jalan kecil yang kedua sisinya dinaungi pepohonan.
Sesampainya di rumah Kelter menggambar sebuah peta untuk Jan. Mereka berencana masuk ke dalam gedung dan tampaknya ada kesempatan untuk melakukan itu. Sementara itu di Batavia Si Jerawat memulai petualangannya. Kadang naik kereta, kadang dia berjalan kaki menyusuri kota . Dia sedang dalam perjalanan menuju alamat yang diberikan padanya. Di sebuah tempat yang asing, dia melintas di depan rumah-rumah orang Eropa. Jika informasinya benar, dia pasti menemukan alamat yang dicari.
Di balik sebuah pagar, seorang pribumi sedang duduk di bawah kerai bambu. Si Jerawat bertanya apakah kenal dengan “Mr. Tresser”. Orang itu menggeleng, tapi Si Jerawat bilang kalau alamat yang dia cari benar di sini. Orang itu lalu menunjuk sebuah pondok dan Si Jerawat bergegas menaiki tangga. Dia mendengar suara si pribumi mengikutinya dari belakang. Dengan cepat, Si Jerawat membuka pintu pondok itu. Di dalam pondok dia menemukan seorang lelaki kulit putih yang tampak sangat terkejut. “Mr. Tresser” yang dia lihat seperti bukan “Mr. Tresser”, tapi kawan lamanya dulu. Pertemuan tersebut benar-benar di luar dugaan dan mereka merayakannya dengan makanan lokal yang sengaja disimpan “Mr. Tresser”.
Dari sahabatnya itu, Si Jerawat memperoleh banyak informasi tentang tentara Sekutu yang bersembunyi di selatan pegunungan dan akan berjuang hingga tetes darah penghabisan. Semangat kelompok ini mengagumkan, tapi mereka kekurangan makanan dan obat-obatan. Banyak dari mereka sedang terserang malaria dan disentri. Senjata mereka melimpah, tapi mereka hidup dari apapun yang bisa mereka tangkap untuk dimakan. Setelah semua informasi diperoleh, dia berpamitan dengan temannya. Satu hal lagi yang ingin dia lakukan: menjabat tangan lelaki tua yang telah melindungi mereka beberapa hari lalu. Tapi saat dia sampai di rumah teman Jan, seorang serdadu Jepang sedang berdiri di depannya. Si Jerawat melangkah pelan-pelan, tapi si serdadu mengatainya ‘anjing’. Dia melihat sekeliling dan tak menemukan orang lain selain serdadu yang melihatnya dengan pongah. Si Jerawat berbalik dan dengan satu langkah dia berdiri di depan si serdadu.
“Apa kau bilang tadi?” tanya Si Jerawat. Si Serdadu menunjuk wajahnya dan berkata: “Anjing, kamu bukan siapa-siapa tapi seekor anjing”. Tiba-tiba Si Jerawat meninju dengan keras dan si serdadu tersungkur ke jalan sambil berteriak-teriak. Suara berisik muncul dari dalam rumah dan seorang Jepang lain keluar sambil menenteng senjata. Si Jerawat menyambutnya dengan pukulan di wajah dan serdadu itu pun ikut terkapar di jalan. Serdadu pertama bangun lagi dan berusaha meraih senapannya yang tadi ikut terjatuh. Tapi Si Jerawat mencekik lehernya dan menendang senapan itu jauh-jauh. Kini serdadu kedua bangkit, mengambil bayonet dari pinggangnya lalu berlari ke arah Si Jerawat. Tapi karena posturnya lebih tinggi, dia memegang tangan si serdadu. Bayonet itu berbalik dan mengenai si empunya. Si Jerawat lalu memegang kepala serdadu lainnya dan membenturkan keduanya.
Suara kesakitan memecah kesunyian. Kini jalan itu dipenuhi orang-orang yang ikut berteriak sambil bertepuk tangan. Seorang Jepang lain tiba-tiba datang dan menyergap Si Jerawat dari belakang. Dia berbalik dan berhadap-hadapan dengan si penyergap. Tak disangka dia ingat wajah itu, wajah berkulit kuning dan bermata sipit yang pernah menolongnya dari kerumunan dan berbisik: “Cepat, Jerawat. Patroli Jepang sedang menuju ke sini! Ayo cepat!"
Lima menit kemudian mereka duduk berhadapan di sebuah tempat yang aman. Si Jerawat mengenakan gaun karena pakaiannya dipenuhi darah. Dia mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang dikatakan temannya: “Waktu kalian meninggalkan rumah itu, tak lama Kempei datang karena dilapori seseorang. Si lelaki tua tak mau ikut mereka. Dia mengambil pistol dan menembak dua serdadu Jepang sambil berteriak “Hidup Ratu!”. Lalu dia ditembak di dada dan mati.”
Beberapa waktu kemudian, ketika Si Jerawat duduk dalam sebuah kereta ke Buitenzorg, dia menyadari betapa bahayanya dia dalam situasi seperti itu. Berkat teman Jepangnya itu, sekali lagi dia berhasil lolos. Memandang ke luar jendela, ke deretan sawah dan bukit-bukit terjal yang indah, matanya mulai basah. Dia teringat sang pahlawan tua yang ingin sekali bergabung dengan mereka. Dia berbisik lirih: “Aku tak akan melupakanmu!”
Sumber:
http://tempodoeloe.com/2015/02/10/kisah-tiga-tentara-knil-bagian-5/
Pagi berikutnya usai sarapan, dia bertemu lagi dengan Kelter. Darinya dia mengetahui tempat senjata disembunyikan, yaitu dalam gedung sekretaris jenderal di tengah kota yang kini ditempati Kempei, polisi rahasia Jepang. Mereka berjalan melewati gedung itu dan melihat para penjaga berdiri di depannya dengan senjata mesin. Tapi keduanya tak menemukan seorang serdadu pun di belakang gedung yang berbatasan dengan rel kereta. Sejajar dengan lintasan kereta ada sebuah jalan kecil yang kedua sisinya dinaungi pepohonan.
Sesampainya di rumah Kelter menggambar sebuah peta untuk Jan. Mereka berencana masuk ke dalam gedung dan tampaknya ada kesempatan untuk melakukan itu. Sementara itu di Batavia Si Jerawat memulai petualangannya. Kadang naik kereta, kadang dia berjalan kaki menyusuri kota . Dia sedang dalam perjalanan menuju alamat yang diberikan padanya. Di sebuah tempat yang asing, dia melintas di depan rumah-rumah orang Eropa. Jika informasinya benar, dia pasti menemukan alamat yang dicari.
Di balik sebuah pagar, seorang pribumi sedang duduk di bawah kerai bambu. Si Jerawat bertanya apakah kenal dengan “Mr. Tresser”. Orang itu menggeleng, tapi Si Jerawat bilang kalau alamat yang dia cari benar di sini. Orang itu lalu menunjuk sebuah pondok dan Si Jerawat bergegas menaiki tangga. Dia mendengar suara si pribumi mengikutinya dari belakang. Dengan cepat, Si Jerawat membuka pintu pondok itu. Di dalam pondok dia menemukan seorang lelaki kulit putih yang tampak sangat terkejut. “Mr. Tresser” yang dia lihat seperti bukan “Mr. Tresser”, tapi kawan lamanya dulu. Pertemuan tersebut benar-benar di luar dugaan dan mereka merayakannya dengan makanan lokal yang sengaja disimpan “Mr. Tresser”.
Dari sahabatnya itu, Si Jerawat memperoleh banyak informasi tentang tentara Sekutu yang bersembunyi di selatan pegunungan dan akan berjuang hingga tetes darah penghabisan. Semangat kelompok ini mengagumkan, tapi mereka kekurangan makanan dan obat-obatan. Banyak dari mereka sedang terserang malaria dan disentri. Senjata mereka melimpah, tapi mereka hidup dari apapun yang bisa mereka tangkap untuk dimakan. Setelah semua informasi diperoleh, dia berpamitan dengan temannya. Satu hal lagi yang ingin dia lakukan: menjabat tangan lelaki tua yang telah melindungi mereka beberapa hari lalu. Tapi saat dia sampai di rumah teman Jan, seorang serdadu Jepang sedang berdiri di depannya. Si Jerawat melangkah pelan-pelan, tapi si serdadu mengatainya ‘anjing’. Dia melihat sekeliling dan tak menemukan orang lain selain serdadu yang melihatnya dengan pongah. Si Jerawat berbalik dan dengan satu langkah dia berdiri di depan si serdadu.
“Apa kau bilang tadi?” tanya Si Jerawat. Si Serdadu menunjuk wajahnya dan berkata: “Anjing, kamu bukan siapa-siapa tapi seekor anjing”. Tiba-tiba Si Jerawat meninju dengan keras dan si serdadu tersungkur ke jalan sambil berteriak-teriak. Suara berisik muncul dari dalam rumah dan seorang Jepang lain keluar sambil menenteng senjata. Si Jerawat menyambutnya dengan pukulan di wajah dan serdadu itu pun ikut terkapar di jalan. Serdadu pertama bangun lagi dan berusaha meraih senapannya yang tadi ikut terjatuh. Tapi Si Jerawat mencekik lehernya dan menendang senapan itu jauh-jauh. Kini serdadu kedua bangkit, mengambil bayonet dari pinggangnya lalu berlari ke arah Si Jerawat. Tapi karena posturnya lebih tinggi, dia memegang tangan si serdadu. Bayonet itu berbalik dan mengenai si empunya. Si Jerawat lalu memegang kepala serdadu lainnya dan membenturkan keduanya.
Suara kesakitan memecah kesunyian. Kini jalan itu dipenuhi orang-orang yang ikut berteriak sambil bertepuk tangan. Seorang Jepang lain tiba-tiba datang dan menyergap Si Jerawat dari belakang. Dia berbalik dan berhadap-hadapan dengan si penyergap. Tak disangka dia ingat wajah itu, wajah berkulit kuning dan bermata sipit yang pernah menolongnya dari kerumunan dan berbisik: “Cepat, Jerawat. Patroli Jepang sedang menuju ke sini! Ayo cepat!"
Lima menit kemudian mereka duduk berhadapan di sebuah tempat yang aman. Si Jerawat mengenakan gaun karena pakaiannya dipenuhi darah. Dia mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang dikatakan temannya: “Waktu kalian meninggalkan rumah itu, tak lama Kempei datang karena dilapori seseorang. Si lelaki tua tak mau ikut mereka. Dia mengambil pistol dan menembak dua serdadu Jepang sambil berteriak “Hidup Ratu!”. Lalu dia ditembak di dada dan mati.”
Beberapa waktu kemudian, ketika Si Jerawat duduk dalam sebuah kereta ke Buitenzorg, dia menyadari betapa bahayanya dia dalam situasi seperti itu. Berkat teman Jepangnya itu, sekali lagi dia berhasil lolos. Memandang ke luar jendela, ke deretan sawah dan bukit-bukit terjal yang indah, matanya mulai basah. Dia teringat sang pahlawan tua yang ingin sekali bergabung dengan mereka. Dia berbisik lirih: “Aku tak akan melupakanmu!”
Sumber:
http://tempodoeloe.com/2015/02/10/kisah-tiga-tentara-knil-bagian-5/
Euis Manis van Tjibolang di Jalan Kareli (Cimahi di Masa Lalu #1)
Oleh: Mas Wid
Jalan Gatot Subroto dulu bernama 'Kareli' karena di sana pernah tinggal seorang Belanda totok bernama Karel van Ingledorf. Sekarang nama Kareli sudah jarang disebut orang, kecuali satu dua orang yang sudah sepuh. Kareli adalah pusat perdagangan Cimahi. Disana ada sebuah toko bernama Toko Soerabaia. Toko itu merupakan toko serba ada yang paling besar dan lengkap pada masanya. Macam-macam barang kelontong dan pakaian dijual disana. Pemiliknya bernama tuan Kimkim adalah salah satu orang paling kaya di Cimahi saat itu.
Samar-samar teringat dalam kenanganku sekitar tahun 60’an. Ketika stasiun TVRI baru saja diresmikan pemerintah, tuan Kimkim adalah orang Cimahi pertama yang memiliki televisi. Pesawat televisi hitam-putih itu sengaja ia ditaruh di atas loteng menghadap ke jalan raya. Sontak saja penduduk kota Cimahi saat itu berduyun-duyun keluar dari gang-gang tempat tinggalnya untuk menonton televisi. Penduduk menyemut sepanjang jalan menyaksikan Bung Karno berpidato di Pekan Olahraga Ganefo. Semua orang tampak melongo menyaksikan kotak 'gambar idoep' itu untuk pertama kali.
Diseberang Toko Soerabaia ada tukang pangkas rambut “Noto”. Tukang pangkas rambut Noto adalah tukang pangkas rambut yang paling top dan bergengsi di Cimahi yang sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda. Tentara-tentara Belanda dan sinyo-sinyo biasa bercukur disana. Hanya sedikit saja warga pribumi yang sanggup bercukur disana karena ongkosnya terbilang mahal. Menurut cerita dari Oma Lien, sinyo-sinyo biasanya bercukur pada sore hari dengan naik dokar atau menunggang kuda, kemudian malamnya dilanjutkan dengan dansa-dansi di beberapa rumah sepanjang jalan Kareli (sekarang depan Kodim). Ketika itu kendaraan pribadi milik orang kaya adalah dokar. Sedangkan vracht-auto atau mobil cuma bisa dimiliki orang-orang super kaya di Batavia, Soerabaia atau Bandoeng.
Pangkas rambut “Noto” sekarang ini masih tetap buka meski sudah pudar cahaya kejayaannya. Pelanggan setianya masih ada tapi kebanyakan orang yang lanjut usia. Terakhir aku berkunjung kesana, warna furniture-nya meski sudah kusam-kusam disaput debu tapi masih tetap bertahan menembus jaman. Pak Noto sudah lama meninggal, begitu juga anaknya. Sekarang yang memegang usaha pangkas rambut "Noto" adalah keturunan generasi ketiga dari pak Noto.
Tidak jauh dari pangkas rambut Noto, ada jalan memotong ke arah barat. Namanya Jalan Lurah. Kenapa dinamakan Jalan Lurah? Konon, dulu daerah sekitar itu bernama Tjibolang. Di pertengahan jalan itu ada kantor kelurahan yang merupakan pusat pemerintahan desa Cimahi yang amat luas membentang dari Jambudipa, Cisarua sampai ke Leuwigajah yang dipimpin oleh lurah bernama pak Aman. Lurah Aman ini dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan dicintai rakyat. Puluhan tahun lurah Aman memimpin Cimahi. Waktu jaman PKI beliau membuat kekhilafan kecil, yaitu memberikan KTP kepada seorang warga yang terindikasi PKI. Pak Aman pun ditangkap dan ditahan di Ubug sampai meninggal. Kecintaan masyarakat pada beliau tidak pernah surut sehingga nama jalan Cibolang pun diganti namanya menjadi Jalan. Lurah Aman. Namun pada jaman Orde Baru, nama Aman pelan-pelan menghilang, sehingga sekarang tinggallah nama Jalan Lurah.
Daerah Cibolang pada jaman dulu terkenal sebagai tempat pelesiran para lelaki hidung belang. Ada tiga pelacur bersaudara yang paling top di Cibolang, yaitu Roekiah, Roeslinah dan Roesminah yang dijuluki Euis Manis Van Tjibolang. Wajahnya yang setengah indo dan senyumannya legit itu sanggup merontokkan hati setiap lelaki. Mereka bertiga diasuh oleh seorang germo yang tak lain adalah ibunya sendiri! Konon, para pelanggannya adalah jenderal-jenderal dari Jakarta, sementara para hidung belang lokal yang berduit tipis hanya bisa menelan ludah saja membayangkan wajah si 'Euis Manis' ini.
Sumber: https://nokiding.wordpress.com/
Jalan Gatot Subroto dulu bernama 'Kareli' karena di sana pernah tinggal seorang Belanda totok bernama Karel van Ingledorf. Sekarang nama Kareli sudah jarang disebut orang, kecuali satu dua orang yang sudah sepuh. Kareli adalah pusat perdagangan Cimahi. Disana ada sebuah toko bernama Toko Soerabaia. Toko itu merupakan toko serba ada yang paling besar dan lengkap pada masanya. Macam-macam barang kelontong dan pakaian dijual disana. Pemiliknya bernama tuan Kimkim adalah salah satu orang paling kaya di Cimahi saat itu.
Samar-samar teringat dalam kenanganku sekitar tahun 60’an. Ketika stasiun TVRI baru saja diresmikan pemerintah, tuan Kimkim adalah orang Cimahi pertama yang memiliki televisi. Pesawat televisi hitam-putih itu sengaja ia ditaruh di atas loteng menghadap ke jalan raya. Sontak saja penduduk kota Cimahi saat itu berduyun-duyun keluar dari gang-gang tempat tinggalnya untuk menonton televisi. Penduduk menyemut sepanjang jalan menyaksikan Bung Karno berpidato di Pekan Olahraga Ganefo. Semua orang tampak melongo menyaksikan kotak 'gambar idoep' itu untuk pertama kali.
Diseberang Toko Soerabaia ada tukang pangkas rambut “Noto”. Tukang pangkas rambut Noto adalah tukang pangkas rambut yang paling top dan bergengsi di Cimahi yang sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda. Tentara-tentara Belanda dan sinyo-sinyo biasa bercukur disana. Hanya sedikit saja warga pribumi yang sanggup bercukur disana karena ongkosnya terbilang mahal. Menurut cerita dari Oma Lien, sinyo-sinyo biasanya bercukur pada sore hari dengan naik dokar atau menunggang kuda, kemudian malamnya dilanjutkan dengan dansa-dansi di beberapa rumah sepanjang jalan Kareli (sekarang depan Kodim). Ketika itu kendaraan pribadi milik orang kaya adalah dokar. Sedangkan vracht-auto atau mobil cuma bisa dimiliki orang-orang super kaya di Batavia, Soerabaia atau Bandoeng.
Pangkas rambut “Noto” sekarang ini masih tetap buka meski sudah pudar cahaya kejayaannya. Pelanggan setianya masih ada tapi kebanyakan orang yang lanjut usia. Terakhir aku berkunjung kesana, warna furniture-nya meski sudah kusam-kusam disaput debu tapi masih tetap bertahan menembus jaman. Pak Noto sudah lama meninggal, begitu juga anaknya. Sekarang yang memegang usaha pangkas rambut "Noto" adalah keturunan generasi ketiga dari pak Noto.
Tidak jauh dari pangkas rambut Noto, ada jalan memotong ke arah barat. Namanya Jalan Lurah. Kenapa dinamakan Jalan Lurah? Konon, dulu daerah sekitar itu bernama Tjibolang. Di pertengahan jalan itu ada kantor kelurahan yang merupakan pusat pemerintahan desa Cimahi yang amat luas membentang dari Jambudipa, Cisarua sampai ke Leuwigajah yang dipimpin oleh lurah bernama pak Aman. Lurah Aman ini dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan dicintai rakyat. Puluhan tahun lurah Aman memimpin Cimahi. Waktu jaman PKI beliau membuat kekhilafan kecil, yaitu memberikan KTP kepada seorang warga yang terindikasi PKI. Pak Aman pun ditangkap dan ditahan di Ubug sampai meninggal. Kecintaan masyarakat pada beliau tidak pernah surut sehingga nama jalan Cibolang pun diganti namanya menjadi Jalan. Lurah Aman. Namun pada jaman Orde Baru, nama Aman pelan-pelan menghilang, sehingga sekarang tinggallah nama Jalan Lurah.
Daerah Cibolang pada jaman dulu terkenal sebagai tempat pelesiran para lelaki hidung belang. Ada tiga pelacur bersaudara yang paling top di Cibolang, yaitu Roekiah, Roeslinah dan Roesminah yang dijuluki Euis Manis Van Tjibolang. Wajahnya yang setengah indo dan senyumannya legit itu sanggup merontokkan hati setiap lelaki. Mereka bertiga diasuh oleh seorang germo yang tak lain adalah ibunya sendiri! Konon, para pelanggannya adalah jenderal-jenderal dari Jakarta, sementara para hidung belang lokal yang berduit tipis hanya bisa menelan ludah saja membayangkan wajah si 'Euis Manis' ini.
Sumber: https://nokiding.wordpress.com/
Monday, October 5, 2015
Dari Nonton Bisokop Sampai Hantu Santiong (Cimahi di Masa Lalu #2)
Oleh: Mas Wid
Sejak dulu Alun-alun Cimahi sudah jadi pusat keramaian. Masjid Agung belum ada. Di tempat ini dulu sebagai terminal oplet jurusan Bandung. Rutenya hanya pulang pergi: Alun-alun Bandung - Alun-alun Cimahi. Sedangkan jalan-jalan lain di Cimahi belum ada yang dilewati mobil angkutan umum kecuali delman. Oplet sesungguhnya adalah mobil sedan buatan Eropa, tapi karoserinya di vermaak habis sehingga bisa muat banyak penumpang. Sebagian karoserinya terbuat dari plat besi, tapi banyak pula yang dibikin dari kayu.
Disekitar Alun-alun Cimahi ada tiga bioskop sebagai tempat hiburan paling top ketika itu, yaitu bioskop Harapan (sekarang toserba Ramayana), Rio Theater dan bioskop Nusantara atau biasa disebut misbar (gerimis bubar) di jalan Babakan. Diantara ketiganya, bioskop misbar Nusantara-lah yang paling murah ongkos karcisnya, sekaligus banyak meninggalkan kesan bagiku. Ketika itu hiburan yang paling keren adalah nonton film di bioskop. Aku lahir di tengah-tengah keluarga yang pas-pasan sehingga sangat susah bagiku untuk membeli karcis. Kalau sudah kepingin betul nonton film, maka sejak jam empat sore aku sudah menyelinap dan bersembunyi di dalam bioskop bersama teman. Begitu penonton yang resmi sudah masuk jam 7 malam, maka kami pun baru keluar dari persembunyian dan menggabungkan diri bersama penonton yang lain.
Bila malam minggu tiba, akang-akang dan euceu-euceu yang masih lajang akan pergi ke bioskop secara berombongan. Kang Atang, kang Dudu, Kang Nana pergi berombongan dengan ceu Kokom, ceu Yati dan ceu isah sedangkan yang sudah punya pacar memilih pergi berduaan. Pakaiannya tentu saja celana cutbray yang bagian bawahnya lebar menyapu jalan. Yang uangnya berlebih memilih Rio Theatre, sementara buat yang uangnya pas-pasan, nonton film di bioskop misbar sajalah sudah cukup. Seingatku saat itu harga karcisnya Rp. 250,- untuk tiga film.
Jika film sudah mulai diputar, keadaan di dalam bioskop misbar menjadi riuh rendah oleh teriakan dan suara 'suit-suit'. Demikian pula kalau ada adegan ciuman atau kalau jagoannya menang berkelahi. Para penontonnya duduk di atas bangku tembok memanjang dan sebagian lain memilih tempat di sudut-sudut yang gelap, kadang berbau pesing. Film yang paling digemari apalagi kalau bukan film India. Raj Khapoor, Amitabh Bachan dan Hema Malini adalah bintang-bintang yang kesohor waktu itu.
Bioskop 'Misbar' juga merupakan tempat mangkal para 'kupu-kupu malam' kelas murahan beroperasi mencari mangsa lelaki hidung belang. Dengan suaranya yang dibikin manja, mereka menyapa, “Hayu atuh Kang kita maen, barang sekocok dua kocok”. Apabila si akang setuju maka mereka berdua segera menyelinap ke dalam gelap. Waktu itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti, sehingga peristiwa mesum itu tidak meninggalkan kesan apapun.
Apabila hujan turun para penonton berlarian ke pinggir tembok mencari tempat berteduh, dan ketika hujan sudah reda mereka kembali menyebar ke tengah. Aku sangat senang kalau cuaca sedang terang. Sambil mendongakkan kepala di dalam bioskop misbar, aku memandang bintang-bintang bertaburan di langit. Besoknya sudah pasti akupun akan jadi bintang di sekolah, bercerita tentang film yang aku tonton. Teman-teman yang lain seperti bergantung pada bibirku mendengar aku bercerita.
Menurut sebagian orang, konon di dalam gedung bioskop misbar ada hantunya. Pernah ada cerita seorang pemuda berkenalan dengan gadis yang sangat cantik. Diceritakan, mereka kemudian jalan berduaan ke rumah si gadis tersebut dengan hati berbunga-bunga. Rumahnya kelihatan bagus sekali dan pemuda itu menginap semalam disana. Dan ketika terbangun pada esok paginya, ternyata pemuda itu didapati sedang tidur sambil memeluk sebatang pohon di tengah-tengah kuburan Santiong (kuburan Cina). Pemuda itupun kemudian lari terbirit-birit sambil terkencing-kencing. Benar tidaknya Wallahu’alam.
Lewat jauh malam pemutaran film selesai. Para akang dan euceu kembali pulang berombongan. Di sepanjang jalan mereka terus memperbincangkan cerita film yang barusan ditontonnya. Apabila ada yang salah mengerti tentang jalan cerita, maka yang lain mentertawainya beramai-ramai. Sesampai di rumah biasanya mereka duduk-duduk dulu di teras melanjutkan obrolan sambil mencari-cari barangkali ada tukang bajigur yang sedang kebetulan lewat. Jika sudah puas baru berangkat tidur.
Sekarang bioskop misbar Nusantara sudah lama tutup. Di depannya dibangun Masjid. Katanya untuk mencegah maksiat. Cuma bioskop Rio yang masih bertahan. Sekalipun bangunannya sudah lama tutup tetapi kenangannya masih tetap hidup dalam angan-anganku
Sumber: https://nokiding.wordpress.com/
Sejak dulu Alun-alun Cimahi sudah jadi pusat keramaian. Masjid Agung belum ada. Di tempat ini dulu sebagai terminal oplet jurusan Bandung. Rutenya hanya pulang pergi: Alun-alun Bandung - Alun-alun Cimahi. Sedangkan jalan-jalan lain di Cimahi belum ada yang dilewati mobil angkutan umum kecuali delman. Oplet sesungguhnya adalah mobil sedan buatan Eropa, tapi karoserinya di vermaak habis sehingga bisa muat banyak penumpang. Sebagian karoserinya terbuat dari plat besi, tapi banyak pula yang dibikin dari kayu.
Disekitar Alun-alun Cimahi ada tiga bioskop sebagai tempat hiburan paling top ketika itu, yaitu bioskop Harapan (sekarang toserba Ramayana), Rio Theater dan bioskop Nusantara atau biasa disebut misbar (gerimis bubar) di jalan Babakan. Diantara ketiganya, bioskop misbar Nusantara-lah yang paling murah ongkos karcisnya, sekaligus banyak meninggalkan kesan bagiku. Ketika itu hiburan yang paling keren adalah nonton film di bioskop. Aku lahir di tengah-tengah keluarga yang pas-pasan sehingga sangat susah bagiku untuk membeli karcis. Kalau sudah kepingin betul nonton film, maka sejak jam empat sore aku sudah menyelinap dan bersembunyi di dalam bioskop bersama teman. Begitu penonton yang resmi sudah masuk jam 7 malam, maka kami pun baru keluar dari persembunyian dan menggabungkan diri bersama penonton yang lain.
Bila malam minggu tiba, akang-akang dan euceu-euceu yang masih lajang akan pergi ke bioskop secara berombongan. Kang Atang, kang Dudu, Kang Nana pergi berombongan dengan ceu Kokom, ceu Yati dan ceu isah sedangkan yang sudah punya pacar memilih pergi berduaan. Pakaiannya tentu saja celana cutbray yang bagian bawahnya lebar menyapu jalan. Yang uangnya berlebih memilih Rio Theatre, sementara buat yang uangnya pas-pasan, nonton film di bioskop misbar sajalah sudah cukup. Seingatku saat itu harga karcisnya Rp. 250,- untuk tiga film.
Jika film sudah mulai diputar, keadaan di dalam bioskop misbar menjadi riuh rendah oleh teriakan dan suara 'suit-suit'. Demikian pula kalau ada adegan ciuman atau kalau jagoannya menang berkelahi. Para penontonnya duduk di atas bangku tembok memanjang dan sebagian lain memilih tempat di sudut-sudut yang gelap, kadang berbau pesing. Film yang paling digemari apalagi kalau bukan film India. Raj Khapoor, Amitabh Bachan dan Hema Malini adalah bintang-bintang yang kesohor waktu itu.
Bioskop 'Misbar' juga merupakan tempat mangkal para 'kupu-kupu malam' kelas murahan beroperasi mencari mangsa lelaki hidung belang. Dengan suaranya yang dibikin manja, mereka menyapa, “Hayu atuh Kang kita maen, barang sekocok dua kocok”. Apabila si akang setuju maka mereka berdua segera menyelinap ke dalam gelap. Waktu itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti, sehingga peristiwa mesum itu tidak meninggalkan kesan apapun.
Apabila hujan turun para penonton berlarian ke pinggir tembok mencari tempat berteduh, dan ketika hujan sudah reda mereka kembali menyebar ke tengah. Aku sangat senang kalau cuaca sedang terang. Sambil mendongakkan kepala di dalam bioskop misbar, aku memandang bintang-bintang bertaburan di langit. Besoknya sudah pasti akupun akan jadi bintang di sekolah, bercerita tentang film yang aku tonton. Teman-teman yang lain seperti bergantung pada bibirku mendengar aku bercerita.
Menurut sebagian orang, konon di dalam gedung bioskop misbar ada hantunya. Pernah ada cerita seorang pemuda berkenalan dengan gadis yang sangat cantik. Diceritakan, mereka kemudian jalan berduaan ke rumah si gadis tersebut dengan hati berbunga-bunga. Rumahnya kelihatan bagus sekali dan pemuda itu menginap semalam disana. Dan ketika terbangun pada esok paginya, ternyata pemuda itu didapati sedang tidur sambil memeluk sebatang pohon di tengah-tengah kuburan Santiong (kuburan Cina). Pemuda itupun kemudian lari terbirit-birit sambil terkencing-kencing. Benar tidaknya Wallahu’alam.
Lewat jauh malam pemutaran film selesai. Para akang dan euceu kembali pulang berombongan. Di sepanjang jalan mereka terus memperbincangkan cerita film yang barusan ditontonnya. Apabila ada yang salah mengerti tentang jalan cerita, maka yang lain mentertawainya beramai-ramai. Sesampai di rumah biasanya mereka duduk-duduk dulu di teras melanjutkan obrolan sambil mencari-cari barangkali ada tukang bajigur yang sedang kebetulan lewat. Jika sudah puas baru berangkat tidur.
Sekarang bioskop misbar Nusantara sudah lama tutup. Di depannya dibangun Masjid. Katanya untuk mencegah maksiat. Cuma bioskop Rio yang masih bertahan. Sekalipun bangunannya sudah lama tutup tetapi kenangannya masih tetap hidup dalam angan-anganku
Sumber: https://nokiding.wordpress.com/
Permainan Masa Kecil dan Sorban Palid (Cimahi di Masa Lalu #3)
Oleh: Mas Wid
Pertengahan tahun 60-an. Aku masih SD. Sore hari selepas Maghrib adalah saat-saat menyenangkan bagiku. Bersama teman-teman bermain di halaman, dibawah bulan purnama yang bersinar bulat terang. Macam-macam permainan waktu itu. Yang perempuan bermain oray-orayan, sasalimpatan atau loncat tali.Sementara anak laki-laki bermain galahsin, sorodot gaplok, ucing bancakan atau yang lainnya. Sementara kami bermain, bapak dan emak duduk di teras rumah. Emak memangku adik yang kecil dan bapak membaca buku sambil ngobrol dan mendengarkan radio tabung. Kadang berita, kadang lagu-lagu Sunda yang dinyanyikan oleh penyanyi top kala itu yaitu Upit Sarimanah dan Titim Fatimah> Lagunya berjudul "Sorban Palid".
kaso pondok kaso panjang
kaso ngaroyom ka jalan
sono mondok sono nganjang
sono patepang di jalan
Kami bermain dengan gembira. Alat permainan tidak pernah beli, kami hanya memungut apa saja yang ada di halaman untuk dijadikan mainan. Buah haremis, pecahan genteng untuk uang-uangan, biji asem, biji salak yang diukir jadi cincin atau paku dilindas kereta api sebagai pedang-pedangan, semua bisa jadi barang mainan.
Sekali-sekali di hari minggu aku dan teman-teman pergi piknik. Berbekal nasi di rantang kami bersama berjalan ke taman Kartini. Sesampai di sana kami ngariung makan bersama dibawah naungan pohon beringin tua yang berumur puluhan tahun. Taman warisan Belanda itu samapai kini tetap terawat asri.
Kadang-kadang kami ber-vakansi ke tempat yang lebih jauh, ke Curug Panganten atau Curug Cimahi. Itupun ditempuh dengan jalan kaki beramai-ramai menyusuri kampung Kandang Uncal, Ciuyah hingga tembus ke Cisarua. Sepanjang jalan ketika itu nyaris tidak ada bangunan tembok, hanya rumah panggung berkelompok-kelompok kecil. Sepanjang perjalanan yang tampak sawah, kebun sayuran, kebun bambu dan hutan-hutan kecil. Hijau dan hijau sejauh mata memandang.
Sumber: https://nokiding.wordpress.com/
Pertengahan tahun 60-an. Aku masih SD. Sore hari selepas Maghrib adalah saat-saat menyenangkan bagiku. Bersama teman-teman bermain di halaman, dibawah bulan purnama yang bersinar bulat terang. Macam-macam permainan waktu itu. Yang perempuan bermain oray-orayan, sasalimpatan atau loncat tali.Sementara anak laki-laki bermain galahsin, sorodot gaplok, ucing bancakan atau yang lainnya. Sementara kami bermain, bapak dan emak duduk di teras rumah. Emak memangku adik yang kecil dan bapak membaca buku sambil ngobrol dan mendengarkan radio tabung. Kadang berita, kadang lagu-lagu Sunda yang dinyanyikan oleh penyanyi top kala itu yaitu Upit Sarimanah dan Titim Fatimah> Lagunya berjudul "Sorban Palid".
kaso pondok kaso panjang
kaso ngaroyom ka jalan
sono mondok sono nganjang
sono patepang di jalan
Kami bermain dengan gembira. Alat permainan tidak pernah beli, kami hanya memungut apa saja yang ada di halaman untuk dijadikan mainan. Buah haremis, pecahan genteng untuk uang-uangan, biji asem, biji salak yang diukir jadi cincin atau paku dilindas kereta api sebagai pedang-pedangan, semua bisa jadi barang mainan.
Sekali-sekali di hari minggu aku dan teman-teman pergi piknik. Berbekal nasi di rantang kami bersama berjalan ke taman Kartini. Sesampai di sana kami ngariung makan bersama dibawah naungan pohon beringin tua yang berumur puluhan tahun. Taman warisan Belanda itu samapai kini tetap terawat asri.
Kadang-kadang kami ber-vakansi ke tempat yang lebih jauh, ke Curug Panganten atau Curug Cimahi. Itupun ditempuh dengan jalan kaki beramai-ramai menyusuri kampung Kandang Uncal, Ciuyah hingga tembus ke Cisarua. Sepanjang jalan ketika itu nyaris tidak ada bangunan tembok, hanya rumah panggung berkelompok-kelompok kecil. Sepanjang perjalanan yang tampak sawah, kebun sayuran, kebun bambu dan hutan-hutan kecil. Hijau dan hijau sejauh mata memandang.
Sumber: https://nokiding.wordpress.com/
Subscribe to:
Posts (Atom)