Monday, October 5, 2015

Permainan Masa Kecil dan Sorban Palid (Cimahi di Masa Lalu #3)

Oleh: Mas Wid

Pertengahan tahun 60-an. Aku masih SD. Sore hari selepas Maghrib adalah saat-saat menyenangkan bagiku. Bersama teman-teman bermain di halaman, dibawah bulan purnama yang bersinar bulat terang. Macam-macam permainan waktu itu. Yang perempuan bermain oray-orayan, sasalimpatan atau loncat tali.Sementara anak laki-laki bermain galahsin, sorodot gaplok, ucing bancakan atau yang lainnya. Sementara kami bermain, bapak dan emak duduk di teras rumah. Emak memangku adik yang kecil dan bapak membaca buku sambil ngobrol dan mendengarkan radio tabung. Kadang berita, kadang lagu-lagu Sunda yang dinyanyikan oleh penyanyi top kala itu yaitu Upit Sarimanah dan Titim Fatimah> Lagunya berjudul "Sorban Palid".

kaso pondok kaso panjang
kaso ngaroyom ka jalan
sono mondok sono nganjang
sono patepang di jalan


Kami bermain dengan gembira. Alat permainan tidak pernah beli, kami hanya memungut apa saja yang ada di halaman untuk dijadikan mainan. Buah haremis, pecahan genteng untuk uang-uangan, biji asem, biji salak yang diukir jadi cincin atau paku dilindas kereta api sebagai pedang-pedangan, semua bisa jadi barang mainan.

Sekali-sekali di hari minggu aku dan teman-teman pergi piknik. Berbekal nasi di rantang kami bersama berjalan ke taman Kartini. Sesampai di sana kami ngariung makan bersama dibawah naungan pohon beringin tua yang berumur puluhan tahun. Taman warisan Belanda itu samapai kini tetap terawat asri.

Kadang-kadang kami ber-vakansi ke tempat yang lebih jauh, ke Curug Panganten atau Curug Cimahi. Itupun ditempuh dengan jalan kaki beramai-ramai menyusuri kampung Kandang Uncal, Ciuyah hingga tembus ke Cisarua. Sepanjang jalan ketika itu nyaris tidak ada bangunan tembok, hanya rumah panggung berkelompok-kelompok kecil. Sepanjang perjalanan yang tampak sawah, kebun sayuran, kebun bambu dan hutan-hutan kecil. Hijau dan hijau sejauh mata memandang.

Sumber:  https://nokiding.wordpress.com/

Sumur Bor Tua Peninggalan School Opleiding Parachute

Pintu masuk. "ANNO 1916"
 Berawal dari sebuah foto lama dokumentasi KITLV. Di dalam foto itu seorang anggota pasukan School Opleiding Parachute (SOP) sedang latihan terjun di sebuah lapangan (terrein). Tampak di kejauhan sebuah bangunan putih berbentuk silinder berdiri tegak.Ya, itu dia Sumur Bor. Sebelumnya pernah dengar tentang keberadaan sumur bor ini tetapi belum melihat secara dekat, akhirnya siang itu saya menuju lokasi sumur itu. Letaknya sekarang berada di belakang komplek perumahan dinas KPAD Sriwijaya (jalan Pojok Selatan). Sebagai kota Garnizun KNIL untuk menunjang suplai air ke dalam tangsi-tangsi, di Cimahi didirikan beberapa titik sumur bor yang dilengkapi dengan bangunan unik. Salah satunya berada di jalan Pojok Selatan Cimahi.

Didepan pintu bangunan sumur bor terdapat tulisan "Anno 1916" yang artinya bangunan sumur bor tersebut dibangun pada tahun 1916. Beberapa ornamen berbahan kayu masih asli, termasuk pintu masuk yang terdiri dari dua daun pintunya. Di samping sebelah bawah bangunan terdapat sebuah plakat bertuliskan + 8,00 TP. Rasa penasaran saya untuk melihat kedalam sumur itu agak terhambat karena pintu di tutup dengan cara dipaku secara permanen. Ya, dipaku! Tak hanya itu, bagian bawah pintu masuk ke dalam bangunan dipasang sebuah palang terbuat dari papan dan di sekelilingnya juga dipaku. Tapi ternyata masih terdapat sebuah celah diantara daun pintunya.

Saya kemudian menengok kedalam melalui celah itu. Di dalamnya tampak agak gelap, tetapi sinar matahari masih menerobos masuk sedikit pada bagian atasnya yang terbuka. Dari celah itu saya pun bisa melihat dengan jelas bagian dalamnya. Di sana ada terdapat sebuah pipa besar menancap ke tanah. Sepertinya pipa itu adalah pipa untuk mengalirkan air sumur, dan di sebuah sudut ada terdapat sebuah blok besi berbentuk kotak berukuran besar. Sepertinya sebuah mesin tua yang teronggok. Saya coba mengelilingkan pandangan untuk melihat sekelilingnya. Beberapa sudut terlihat sangat gelap. Tiba-tiba nafas saya terasa sesak. Akhirnya saya mundur perlahan dan menyudahi kunjungan.

Sumur Bor
Plakat

 )* Sumber:
Teks dan foto: Iwan Hermawan
 https://www.facebook.com/groups/TjimahiHeritages/

Foto: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10203455560308233&set=pcb.10203455573748569&type=3&theater

Dr. Johannes Leimena

Dr. Johannes Leimena
 Dr. Johannes Leimena. Pahlawan nasional asal Ambon, Maluku. Ia menjabat sebagai menteri selama 21 tahun berturut-turut, sejak Kabinet Sjahrir (1946) sampai Kabinet Dwikora II (1966). Ternyata om Yo, panggilan akrabnya, pernah tinggal di Cimahi walau tak sampai setahun. Saat sekolah dasar, om Yo dekat dengan pamannya, Jesaya Lawalata, seorang guru di Ambonsche Burgerschool. Tahun 1914. Jesaya mendapat promosi sebagai kepala sekolah di Cimahi.

Leimena kecil nekat menyelundup ke dalam kapal laut yang akan membawa sang paman dan keluarganya ke Surabaya. Dari Surabaya, perjalanan ke Cimahi ditempuh memakai kereta api. Di Cimahi, Jesaya Lawalata menjadi kepala Sekolah “Ambonsche School” (Kini menjadi SMP 1 Cimahi). Sekolah ini hanya menerima murid–murid dari kalangan tentara di kota tentara itu. Tapi Johannes Leimena tidak disekolahkan di situ sekalipun pamannya adalah kepala sekolahnya. Kedatangan mereka di Cimahi jatuh pada pertengahan tahun ajaran sehingga anak-anak Bapak Lawalata itu tidak diperkenankan menjadi murid. Selama berada di Cimahi ia dan anak-anak Bapak Lawalata mendapat pelajaran dari pamannya di rumah. Selain itu keluarga Lawalata tidak lama berada di Cimahi, hanya kira-kira sembilan bulan saja. (*)

*) Sumber: Machmud Mubarok
https://www.facebook.com/groups/TjimahiHeritages/

Wednesday, September 9, 2015

Pertempuran di Tagog - Cimahi


Situasi Cimahi sekitar bulan November 1945 sedang dalam peralihan dari pasukan pendudukan Jepang kepada pasukan Inggris Sekutu. Sesuai dengan tugas AFNEI diantaranya melucuti persenjataan pasukan Jepang dan memulangkan kembali ke negeri asalnya, tetapi pada pelaksanaannya hal itu tidak berjalan sempurna. Masih banyak pasukan Jepang yang bersenjata melakukan patroli antara Cimahi-Bandung. Hal ini sengaja digunakan oleh pasukan sekutu untuk membantu tugas-tugas mereka.

Saat itu ada dua buah truk berisi pasukan Jepang melintas di jalan Tagog. Sepulang patroli, dari arah Cibabat sesampainya di dekat jembatan Sukawargi, mereka memprovokasi pemuda-pemuda setempat yang sedang berada di sekitar jembatan dengan mengacung-acungkan senjatanya. Tentu saja hal ini tidak dapat diterima oleh para pemuda-pemuda yang saat itu sudah terbakar semangat revolusi, mengingat Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaannya.

Pada waktu yang bersamaan, dari arah barat melintas satu regu Polisi Negara dengan tanda Polisi Istimewa dibawah pimpinan Ajun Inspektur Uto Subarkah. Mereka berpapasan. Tindakan provokatif pasukan Jepang yang menghina kemerdekaan Indonesia itu berbuah tembakan. Maka terjadilah pertempuran jarak dekat. Anggota Polisi Negara segera berlindung di samping rumah-rumah sekitar Sukawargi dipinggir jalan bersama dengan pemuda-pemuda yang ternyata diketahui adalah anggota dari pasukan TKR Kesatuan Uyo yang bermarkas di Kandang Uncal. Sedangkan komandan regu, yaitu Sudarya bersama dua orang anggota lainnya menyeberang jalan dan masuk ke sebuah gang di Leuwigoong.

Pertempuran sengit terjadi. Pasukan Jepang di dalam truk di tengah jalan berpapasan dengan pejuang di sisi jalan dekat jembatan Tagog. Dua orang serdadu Jepang ditembak oleh Semiran, seorang anggota Polisi Negara yang merupakan seorang penembak jitu. Sedangkan satu lagi terluka dan berlari ke arah gang menuju Leuwigoong yang langsung dengan mudah disergap oleh tiga anggota TKR. Serdadu Jepang itu akhirnya tewas di tempat. Selama pertempuran berlangsung, bantuan pun datang dari Barisan Banteng Republik Indonesia cabang Cimahi. Pasukan Banteng Cimahi pimpinan Ayi Darma itu berdatangan dari markasnya yang berada di Kandang Uncal. Walau pun hanya bersenjatakan golok dan ketapel, tetapi kehadiran mereka mampu mendukung pasukan tempur lainnya. Akibat terdesak, pasukan Jepang melarikan diri dengan sebuah truk menuju markasnya di Kampemen straat (sekarang komplek Pusdikbekang). Sedangkan sebuah truk lainnya ditinggalkan. Truk itu kemudian dibawa ke Citeureup. Sementara senjata-senjata hasil rampasan Jepang itu seterusnya dibagi-bagikan.

Tiga jenazah pasukan Jepang itu kemudian dikuburkan di pinggir kali, dekat jembatan. Tetapi karena proses penguburan tiga jenazah tentara Jepang itu dilakukan secara terburu-buru, salah satu kaki tentara Jepang itu masih tersembul. Makam darurat itu kemudian ditinggalkan. Besoknya pasukan Jepang yang dibantu pasukan Sekutu menuju lokasi bekas pertempuran di Tagog dan menemukan makam tersebut. Ketiga jenazah tentara Jepang itu kemudian dibawa ke markas mereka di Kampemenstraat.

***

*) Sumber: Buku PRAHARA CIMAHI PELAKU DAN PERISTIWA (30 Oktober 1945 – 28 Maret 1946) karya S.M Arief yang dikisahkan kembali oleh Iwan Hermawan. Saya melakukan editing secukupnya.

Monday, September 7, 2015

Menelusuri Sejarah Pertempuran Alun-alun Cimahi

Tjimahi Heritages Trail (Foto: Moch. Sopian Ansori)
Dahsyatnya dunia yang dilanda perang selain meninggalkan aroma mesiu, kematian yang sebenarnya tak sia-sia dan airmata, ia juga tetap menyimpan senarai kisah yang mengharu biru, kesedihan yang tak selesai, atau bahkan bisa menjadi semacam romantisme sejarah yang tak kalah asyik. Demi upaya mengentalkan segala aneka rasa itulah kawan-kawan dari Tjimahi Heritages Trail kembali mengadakan acara jelajah kota tua Cimahi yang diadakan pada tanggal 30 Agustus 2015 dengan menapaktilasi peristiwa pertempuran yang pernah berlangsung di Cimahi. Peristiwa ini adalah sebagai rentetan dari peristiwa bersejarah Bandung Lautan Api pada tahun 1946. Acara jelajah Tjimahi Heritages Trail ke 3 ini mengambil tema “Telusur Sejarah Pertempuran Alun-alun” ini dimulai dari titik pertemuan di Taman Alun-alun. Selanjutnya peserta berjalan kaki menuju titik-titik dimana pertempuran-pertempuran sengit pernah berlangsung di Cimahi, yaitu Alun-alun – pertigaan Tagog – jalan Margaluyu (daerah kawasan Kandang Uncal) – jalan Babakan – jalan Pecinan Pasar Atas dan kembali berakhir di Alun-alun Taman Masjid Agung.

Kota Cimahi sebagi kota garnisun memiliki rentang sejarah panjang yang dimulai sejak jaman kolonialisme, jaman pendudukan Jepang, hingga jaman Perang Kemerdekaan. Beberapa penanda zaman itu masih dapat dijumpai berupa bangunan-bangunan tua sebagai bukti bahwa Cimahi adalah kota tua nan bersejarah. Selain itu, kota Cimahi juga menyimpan kisah-kisah heroik para pejuang-pejuang yang dengan gigih bertempur di medan peperangan. Namun kisah-kisah heroik itu seperti nyaris terlupakan karena tertimbun oleh narasi-narasi besar sejarah pertempuran yang berskala nasional, seperti peristiwa pembumihangusan kota Bandung atau yang lebih dikenal sebagai peristiwa Bandung Lautan Api pada bulan Maret 1946 atau insiden pengibaran bendera Merah Putih di atas atap Gedung Denis pada Oktober 1945. Hal tersebut sangat wajar sebab sudah banyak buku-buku yang mengulas peristiwa-peristiwa tersebut dari berbagai sumber dan sudut pandang. Meskipun di Cimahi tidak didirikan monumen stilasi-stilasi pertempuran seperti 10 buah stilasi yang tersebar di beberapa titik pertempuran di kota Bandung, beruntunglah Cimahi akan segera menyambut sebuah buku sejarah pertempuran yang merupakan hasil dari inisiasi beberapa kawan peminat sejarah berkeinginan untuk menerbitkan buku sejarah pertempuran Cimahi. Naskah yang berjudul PRAHARA CIMAHI PELAKU DAN PERISTIWA (30 Oktober 1945 – 28 Maret 1946) yang disusun SM. Arief tersebut akan dihadirkan menjadi sebuah buku. Dari buku itulah titik terang senarai sejarah pertempuran yang pernah berlangsung di Cimahi akan segera terkuak.

Ultimatum Sekutu dan Awal Mula Pertempuran


Pada bulan Maret 1946 pasukan sekutu memberi ultimatum kepada Tentara Rakyat Indonesia supaya meninggalkan kota Bandung yang kemudian memicu peristiwa Bandung Lautan Api. Tujuan dari pengosongan kota Bandung itu demi mencegah kota Bandung yang akan dijadikan pangkalan pusat militer pasukan Sekutu. Pada bulan Maret itulah pasukan Inggris menuntut agar diberi kebebasan untuk mengambil pasukan-pasukan Jepang yang menginternir diri di daerah Sukabumi. Tuntutan pasukan Inggris itu sebagian disetujui oleh Pemerintah Pusat Republik Indonesia, tapi tidak oleh para pemuda pejuang yang tergabung dalam laskar-laskar dan Tentara Republik Indonesia. Pasukan pejuang Indonesia lebih memilih jalan perang dan konfrontasi demi mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Ketegangan-ketegangan yang terjadi mengakibatkan meletusnya pertempuran-pertempuran di Sukabumi. Pemerintah Republik Indonesia dan Markas Besar Tentara Inggris berusaha mengadakan perundingan untuk menghentikan pertempuran, tapi tidak berhasil. Pertempuran di Sukabumi terus berlangsung hingga pasukan Inggris mengeluarkan ultimatum akan membombardir kota Sukabumi jika pertempuran tidak dihentikan. Dan ultimatum tersebut ternyata tetap dilakukan Inggris dengan menembaki kota dengan menggunakan pesawat di sepanjang jalan Cibadak, Sukabumi. Sementara pertempuran konvoi terus berlangsung di sepanjang jalan Puncak hingga Cimahi. Pertempuran antara pihak Tentara Republik Indonesia dengan konvoi Inggris yang berlangsung di Sukabumi – Cianjur – Bandung itulah yang menyebabkan pasukan Inggris memperketat penjagaan dan penghadangan, terutama di daerah Cimahi sampai Andir.

Pada pertengahan bulan Maret 1946 pihak Tentara Republik Indonesia, Batalyon II pimpinan Sumarsono mendapat kabar bahwa akan ada konvoi pasukan Inggris dengan kekuatan sebanyak 1000 pasukan serdadu Inggris menuju Bandung. Dengan dibantu para pemuda dan pejuang, pasukan Batalyon II tersebut melakukan penghadangan di sekitar Fokkersweg (jalan Garuda sekarang). Pasukan pejuang bersiap siaga dengan senjata masing-masing. Menunggu dan penuh perhatian menyambut kedatangan konvoi pasukan Inggris. Dan memang konvoi itu akhirnya tiba yang ditandai dengan bunyi sekitar 350 motor bersenjata lengkap yang mengeluarkan suara bergemuruh. Ketika iring-iringan konvoi tersebut sudah memasuki Fokkersweg, serangan dari Tentara Republik Indonesia dan pemuda pejuang pun dilancarkan secara mendadak. Tak ada kesempatan bagi pasukan Inggris untuk menghindar atau berlindung. Serangan gencar terus dilancarkan dengan bertubi-tubi. Pertempuran di Fokkersweg itu membawa hasil yang gilang gemilang setelah bertempur seharian. Sebagian logistik dan persenjataan pasukan Inggris berhasil direbut, termasuk sebuah pemancar radio. Pertempuran sengit di Fokkersweg itu menewaskan sebanyak 50 orang pejuang. Sementara itu pos-pos diperkuat di sepanjang jalan Cibeureum, Karangtengah, Ciranjang, Rajamandala, Cipatat, Padalarang dan Cimahi dengan menempatkan artileri. Kampung-kampung di sepanjang jalan itu sudah dikosongkan.

Pertempuran yang terjadi selama 3 hari 3 malam (20-23 Maret 1946) yang menelan korban paling banyak dari pihak Inggris itulah menyebabkan Inggris meminta pemerintah RI melalui Perdana Menteri Sutan Sjahrir agar Tentara Republik Indonesia meninggalkan Bandung. Perundingan antara pihak Sekutu dengan Komandan TRI Jawa Barat, Mayjen Didi Kartasasmita dan Komandan Divisi III Kolonel A.H Nasution tidak bisa mengubah keputusan Sekutu. Selaku pimpinan Sekutu di Bandung, Mayjen Hawtorn kemudian mengeluarkan ultimatum yang berbunyi: "Sebelum pukul 24.00 WIB tanggal 24 Maret 1946 semua pasukan bersenjata harus sudah keluar dari Kota Bandung bagian selatan sejauh radius 11 kilometer". Ultimatum itulah yang memicu perlawanan rakyat Bandung dalam bentuk pembumihangusan kota atau peristiwa Bandung Lautan Api agar kota Bandung tidak mudah digunakan oleh musuh.

Peristiwa Pertempuran 4 Hari 4 Malam di Cimahi

Rumah Uun CH Paggi di jalan Babakan
Eskalasi semangat dan rasa patriotisme dari para pejuang dan pemuda Cimahi pasca dibacakannya Proklamasi oleh Soekarno menjadi semakin tak terbendung. Hal ini ditandai dengan berdirinya pasukan dan laskar-laskar rakyat yang ikut angkat senjata demi mempertahankan kemerdekaan seperti  Kompi Daeng yang dipimpin oleh Daeng Muhamad Ardiwinata, Laskar Fisabililah pimpinan KH. Utsman Dhomiri, Detasemen Abdul Hamid, Laskar Hizbullah, Banteng Cimahi, Kesatuan Uyo dan lain-lain. Jangan bayangkan persenjataan para pasukan dan laskar-laskar itu modern dan lengkap. Meski diantaranya hanya bersenjatakan bambu runcing, arit, golok, kelewang, dan beberapa pucuk senapan tetap tidak mengurangi semangat untuk bertempur. Selain itu ada pula laskar Barisan Rakyat (BARA) yang bertugas dan bertanggungjawab mengamankan pos-pos yang didirikan di kampung-kampung, jalan-jalan dan gang-gang. Dibawah pimpinan Kartadipura, BARA bertugas mengawasi segala kegiatan NICA yang tersebar di jalan Terusan, gang Lurah, Leuwigoong, Pasar Antri, Pojok Selatan, Pojok Utara, pertigaan Tagog dan Cisangkan. Melalui pesan berantai, segala kegiatan-kegiatan NICA yang berlangsung disana segera dilaporkan ke TKR dan Badan-badan perjuangan yang lain.


APOTIK ABADI
Cimahi tahun 1946. Kota ini berada dalam titik panas pasca ultimatum sekutu yang hendak mengosongkan kota Bandung. Pasukan sekutu dan NICA yang berada di dalam Kampemen telah dikepung selama 4 hari 4 malam oleh Detasemen Abdul Hamid dan Kompi Daeng, bersama para laskar dan pejuang. Pada hari terakhir pengepungan selain diserang oleh serangan bersenjata,  semua akses transportasi, listrik dan air ledeng di dalam Kampemenweg juga berhasil diputus. Aksi serangan dan pemutusan akses-akses strategis itu dibalas oleh pasukan tank-tank infanteri sekutu dengan menembakan meriam dan mortir ke seantero kota Cimahi. Kota Cimahi pun hancur lebur. Beberapa bagian kota porak poranda. Beberapa wilayah di sekitar gang Balong, gang Sobari, gang Rangsom, Kebon Kembang, Kalidam, Baros, Contong, Kandang Uncal, Margaluyu dan beberapa toko-toko yang berada disepanjang Grote Postweg hangus terbakar. Karena persenjataan yang tidak seimbang, akhirnya laskar dan pejuang memutuskan untuk mundur. Detasemen Abdul Hamid mundur ke arah Cisarua, sementara Kompi Daeng bergerak ke arah selatan menuju Cipatik. Jembatan yang berada di Nanjung diputus oleh para pejuang. Pasukan sekutu tidak dapat mengejar karena jalur transportasi vital penghubung Cimahi dan Cipatik itu sudah terputus.

Makam Abdul Hamid
 Pada bulan Maret 1946, di sekitar Grote Postweg (Jalan Jend. Amir Machmud sekarang) sudah dikuasai para laskar dan pejuang. Mereka sudah tersebar dan menduduki beberapa pos-pos di sekitar Kebon Kopi (Mall Ramayana sekarang), kantor Kawedanaan (Gedung DPRD Kota Cimahi sekarang) dan Sekolah Rakyat (SD Mandiri 1 sekarang). Ketika pasukan pejuang dan laskar sudah dalam kondisi siap tempur, konvoi truk yang berisi pasukan berseragam Inggris melintas dari arah pertigaan Tagog. Ketika truk pasukan Inggris paling depan sudah berada di sekitar toko Johor, bentrokan pun tak dapat dihindari. Pertempuran pecah di Alun-alun Cimahi! Pasukan regu Kompi Daeng bersama laskar Banteng Cimahi, BARA dan Detasemen Abdul Hamid melakukan penyergapan dan penembakan ke arah truk konvoi pasukan Inggris. Truk terakhir berhenti di sekitar Apotik Abadi sekarang. Pertempuran kota jarak dekat pun pecah. Mereka bertempur di jalan-jalan kecil, di dalam gang, dari pintu ke pintu. Akibat mendapat serangan yang rapat dari pejuang dan laskar, pasukan Inggris pun terdesak dan memutuskan untuk memutar balik kembali menuju Kampemenweg (Jalan Gatot Subroto sekarang). Dari pertempuran itu tidak seluruhnya konvoi truk pasukan Inggris berhasil memutar balik menuju Kampemenweg. Ada dua truk yang tertinggal di depan Apotik Abadi. Truk-truk itu teronggok meninggalkan bercak darah. Setelah digeledah, ditemukan dua pucuk senjata Karraben dan beberapa pakaian seragam. Truk itu kemudian dihidupkan untuk kemudian dibawa menuju arah Citeureup.

Beberapa anggota BARA yang berjaga-jaga di pos Nusantara di jalan Babakan yang tidak sempat menyelamatkan diri akhirnya ditangkap oleh Batalyon Belanda yang tergabung dalam pasukan Andjing NICA. Anggota BARA yang tertangkap itu kemudian di perintahkan untuk berbaris dan di eksekusi mati dengan cara ditembak di tempat. Dengan tangan terkepal disertai pekik "Merdeka!", Bung Tarna gugur ditembak. Mayatnya kemudian dikuburkan oleh Wangsa dan Oni dengan dibantu oleh beberapa warga yang saat itu berhasil menyelamatkan diri karena bersembunyi dari sergapan Batalyon Belanda. Selain Tarna, pasukan pejuang Cimahi yang gugur ditembak mati antara lain Ewen Omo, Juhendi, Uju dan Iin. Imar ditembak di selokan tidak jauh dari pos Nusantara di jalan Babakan. Dasik, Sodik dan Endang ditembak di sekitar Pasar Atas, mayatnya tidak diketemukan.

Jembatan penyebrangan di Tagog


***

Sumber Bacaan:

Bandung Lautan Api (Djajusman). Penerbit Angkasa, Bandung. 1975
Cimahi pun Dibumihanguskan! (Ririn. NF). Pikiran Rakyat. Senin, 31 Agustus 2015
Merah Putih Di Gedung Denis: Catatan Tercecer di Awal Kemerdekaan (Enton Supriyatna Sind & Efrie Christianto). Tatali Publishing, 2015
Prahara Cimahi: Pelaku dan Peristiwa 30 Oktober 1945 - 28 Maret 1946 (SM. Arief). Naskah dummy, Tulus Pustaka 2015