***
Selain menyimpan sejarah kamp
interniran, Cimahi masih memiliki satu kisah kelam peninggalan Jepang, Ianjo Jugun Ianfu. Pada hari Minggu, 14
Juni 2015, bersama komunitas Tjimahi Heritage saya mengikuti napak tilas jejak
sejarah Ianjo Jugun Ianfu di Cimahi. Dari atas tangga Cimall sebagai titik
kumpul peserta, kami duduk-duduk menunggu peserta yang lain. Satu persatu teman-teman
yang hendak mengikuti napak tilas Jugun Ianfu kemudian datang diiringi senyum
yang mengembang. Setelah semua peserta berkumpul, tanpa menunggu lama jelajah
Ianjo dimulai.
Dari pelataran Cimall peserta berjalan kaki menyusuri sebuah jalan kecil menuju jalan Simpang. Tepat di mulut jalan, di depan deretan rumah-rumah kopel kami berhenti. Mata kami tertuju pada rumah kopel yang tampak tua. Deretan rumah-rumah yang dibangun pada jaman Belanda itu adalah asrama para perwira-perwira militer Belanda. Ketika Jepang mulai berkuasa di Indonesia sejak 1942 - 1945, rumah-rumah bekas perwira Belanda itu kemudian dijadikan Ianjo, yang secara harfiah berarti rumah hiburan yang menyediakan perempuan atau rumah bordil militer Jepang. Di dalam Ianjo-ianjo itulah para perempuan-perempuan desa yang masih muda belia dikumpulkan dan dijadikan santapan birahi para serdadu-serdadu Nippon dengan cara diperkosa secara brutal. Bagaimana para perempuan-perempuan muda itu bisa sampai dijebloskan ke dalam Ianjo?
Dari pelataran Cimall peserta berjalan kaki menyusuri sebuah jalan kecil menuju jalan Simpang. Tepat di mulut jalan, di depan deretan rumah-rumah kopel kami berhenti. Mata kami tertuju pada rumah kopel yang tampak tua. Deretan rumah-rumah yang dibangun pada jaman Belanda itu adalah asrama para perwira-perwira militer Belanda. Ketika Jepang mulai berkuasa di Indonesia sejak 1942 - 1945, rumah-rumah bekas perwira Belanda itu kemudian dijadikan Ianjo, yang secara harfiah berarti rumah hiburan yang menyediakan perempuan atau rumah bordil militer Jepang. Di dalam Ianjo-ianjo itulah para perempuan-perempuan desa yang masih muda belia dikumpulkan dan dijadikan santapan birahi para serdadu-serdadu Nippon dengan cara diperkosa secara brutal. Bagaimana para perempuan-perempuan muda itu bisa sampai dijebloskan ke dalam Ianjo?
![]() |
Ianjo di jalan Simpang |
![]() |
Ianjo di jalan Kalidam |
Alasan-alasan militer Jepang mendirikan Ianjo
Kekalahan demi kekalahan selama Perang Pasifik membuat serdadu-serdadu Jepang menjadi gelap mata dan buas. Kondisi mental yang lelah akibat peperangan menjadi pemicu utama stres yang berkepanjangan. Rasa frustrasi itu kemudian dilampiaskan dengan cara melakukan praktek-praktek kekerasan seksual dan perkosaan yang dilakukan serdadu Jepang terhadap perempuan-perempuan di tanah jajahannya. Terjangkitnya wabah penyakit-penyakit kelamin yang diderita para serdadu Jepang akibat perilaku-perilaku seks yang brutal menjadi salah satu faktor penyebab kekalahan Jepang dalam Perang Pasifik. Kondisi itu membuat mental dan fisik angkatan perang Jepang menjadi rapuh dan lemah. Secara perlahan-lahan, jumlah serdadu menjadi berkurang akibat terjangkitnya penyakit kelamin. Situasi ini membuat para petinggi militer Jepang berpikir keras, hingga akhirnya jatuhlah sebuah keputusan untuk mengantisipasi kekalahan perang dan merosotnya kualitas angkatan perang Jepang dengan cara membangun tempat-tempat prostitusi legal yang dibangun di setiap negara jajahan Jepang. Rumah bordil buatan Jepang itulah yang dinamakan Ianjo yang menyediakan Jugun Ianfu bagi tentara kekaisaran Jepang.

![]() |
Jalan Kalidam |
Ema Kastimah, Jugun Ianfu dari Cimahi
1942. Pada waktu Jepang menduduki Indonesia, Ema Kastimah berusia 17 tahun. Serdadu-serdadu Jepang masuk ke desa Ema dan menculiknya secara paksa. Orang tua Ema tidak berdaya karena ancaman serdadu Jepang. Ema kemudian dimasukkan ke dalam mobil. Dengan didampingi serdadu Jepang, Ema dimasukan ke dalam salah satu rumah yang dijadikan Ianjo yang berada di jalan Simpang. Disana Ema diperkosa dan dipaksa melayani 10 serdadu dalam sehari. Sering kali Emah jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri. Tugas Ema hanya khusus melayani serdadu Jepang yang di mulai dari jam 1 siang hingga jam 5 sore. Setelah itu mandi dan istirahat, lalu mulai lagi dari jam 7 sampai jam 9 malam untuk melayani serdadu Jepang yang berpakaian sipil.
Kebanyakan yang memakai Ema adalah
serdadu berpangkat perwira yang bersikap baik. Namun ada serdadu Jepang yang
bersikap kasar, biasanya serdadu berpangkat rendah. Setelah beberapa bulan
'bekerja' di jalan Simpang, Ema kemudian dipindahkan ke Ianjo di Jalan Kalidam. Jarak antara Ianjo di jalan Simpang dengan Ianjo di jalan Kalidam
cukup dekat sehingga bisa ditempuh dengan hanya jalan kaki. Setiap serdadu yang
datang ke Ianjo yang hendak memakai jasa Ema, terlebih dahulu mereka harus
membeli semacam karcis. Karcis-karcis
itu bentuknya sebesar kartu domino berwarna coklat. Seusai melayani serdadu
Jepang, Emah biasanya diberi semacam obat cair berwarna merah untuk membasuh
kemaluannya.
![]() |
Makam Ema Kastimah (foto: Yarman Mourly) |
Setelah Jepang kalah pada tahun
1945, asrama Ianjo Jugun Ianfu ditutup. Semua perempuan penghuni Ianjo
dipulangkan ke rumah masing-masing. Ketika pulang ke rumah, Ema mendapati
orangtuanya sedang terbaring sakit akibat memikirkan nasib anaknya ketika
berada ditangan Jepang. Beberapa tahun kemudian Ema menikah, tak lama kemudian
suaminya meninggal dunia. Sejak keluarga almarhum suaminya mengetahui masa lalu
Ema yang bekas Jugun Ianfu, mereka menjauhi Ema dari lingkaran keluarga.
***
Matahari sudah semakin tinggi. Sudah
hampir setengah hari saya beserta teman-teman Tjimahi Heritage (Kang Machmud
Mubarok, Teh Ririn NF, Malia Albinia, Kang Dede Syarif, Pak Suyanto, Ibu
Yustina dkk) berkeliling menelusuri jalan Simpang, jalan Kalidam dan jalan
Gedong Empat sambil bertukar kisah dan senarai sejarah perih tentang nasib para
perempuan mantan Jugun Ianfu. Sesekali pikiran saya diterbangkan ke masa-masa
ketika Cimahi diduduki serdadu Jepang. Membayangkan derita luka para
perempuan-perempuan lugu yang dipaksa melayani hasrat buas para serdadu,
menjadi Jugun Ianfu hingga mengalami sanksi sosial berupa pengucilan masyarakat
dengan sebutan yang menghinakan, "bekas Jepang". Setelah berfoto
bersama, peserta jelajah Cimahi berpamitan pulang dengan membawa hati dan
pikiran yang diharu biru.